Ikuti Isa dan Islam di Facebook Ikuti Isa dan Islam di Tweeter

Hakim Yang Adil Dan Penuh Kasih

HakimKota Batupuncak adalah kota kecil yang penuh dengan praktek korupsi. Untuk mengatasi masalah itu pemerintah mengangkat Pak Surono sebagai hakim di kota tersebut. Pak Surono terkenal sebagai Pegawai Negeri administrator yang jujur dan adil, sehingga para wartawan dan beberapa orang terkemuka di kota tersebut tidak menyukainya. Mereka ingin mempermalukan dan merusak nama baik Hakim Surono sehingga dengan terpaksa pemerintah menggantinya dengan hakim lain yang lebih lunak. Mereka pun terus-menerus mencari jalan untuk menjatuhkan nama baik Hakim Surono.

Sahabat Karib Hakim Surono Diketahui Korupsi

Pak Latif, seorang kepala desa tertangkap basah melakukan korupsi. Dia pun ditahan hingga tiba saatnya pengadilan dan Pak Surono sebagai hakimnya. Semasa kecil, Hakim Surono dan Pak Latif tinggal di sebuah desa yang masih wilayah kota Batupuncak. Mereka tinggal bertetangga dan berteman akrab. Mereka selalu bermain bersama dan duduk di bangku sekolah yang sama. Bahkan mereka sering makan bersama dan tidur sekamar.

Orang tua Pak Latif juga membantu membiayai sekolah Hakim Surono,  karena keluarganya sangat miskin. Ketika orang tua Hakim Surono meninggal, orang tua Pak Latif menerima dia seperti anaknya sendiri. Tidak heran jika akhirnya Hakim Surono sangat mengasihi Pak Latif dan keluarganya.

Hakim Surono Dihadapkan Situasi Sulit

Para wartawan mengetahui Pak Latif adalah sahabat karib Hakim Surono dan sangat mengasihinya. Mereka melihat kasus ini adalah waktu yang tepat untuk menjatuhkan nama baik Hakim Surono. Jika Hakim Surono tidak menghukum Pak Latif dengan hukuman maksimal karena korupsi,  maka mereka akan menulis di surat kabar,  "Hakim Surono Tidak Adil dalam Menjatuhkan Hukuman".

Sebaliknya, jika Hakim Surono menghukum Pak Latif dengan hukuman maksimal, para wartawan akan menulis, "Hakim Tidak Menunjukkan Belas-kasihan pada Temannya". Hakim Surono akan digambarkan sebagai hakim yang tidak memiliki hati nurani dan rasa persaudaraan. Mereka akan menguraikan bagaimana sejak kecil kedua orang itu hidup seperti saudara dan keluarga Pak Latif yang telah berkorban untuk menyekolahkan Hakim Surono.

Hal ini menjadi dilema bagi Hakim Surono. Jika dia merasa iba lalu mengampuni Pak Latif, itu artinya Hakim Surono tidak adil. Tetapi, jika dia–karena sifat adilnya–menjatuhkan hukuman maksimal kepada Pak Latif, itu artinya Hakim Surono tidak memiliki sifat kasih dan belas-kasihan.

Adil dan Kasih, Dua Sifat yang Dapat Bertentangan

Dua sifat Hakim Surono yang sepertinya bertentangan ialah kasih dan adil. Hal ini juga terdapat dalam sifat Allah. Allah Maha Adil (Al-'Adl) dan Maha Kasih (Al-Rahim). "Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" (Qs. 1:3).  Dalam diri Allah dua sifat ini sempurna adanya. Namun terkadang dua sifat Allah ini kelihatannya dapat bertentangan.

Sifat adil dan kasih memang kadang terlihat bertentangan. Ini juga terlihat dalam sifat Allah yaitu saat Allah mengampuni dosa manusia begitu saja tanpa hukuman, jelas di sini terlihat Allah mengorbankan sifat adil-Nya. Sebaliknya, jika Allah yang Maha Adil menghukum manusia di neraka selamanya tanpa menyediakan jalan keluar, maka Allah kelihatannya tidak  mempunyai sifat kasih.

Bagaimana dengan Hakim Surono? Bagaimana bila dia bertindak tegas dan adil sehingga menjatuhkan hukuman maksimal pada Pak Latif?

Bagaimana pula bila Allah, Hakim yang Maha Adil menjatuhkan hukuman maksimal atas dosa kita?  Kita akan tinggal di neraka selamanya? Bukankah satu dosa saja sudah merupakan kebusukan yang sangat besar di hadapan Allah yang Mahasuci dan Mahakudus?

Adakah jalan keluar dari dilema ini? Tentu! Yaitu mempertahankan sifat adil dan kasih. Jalan ini pulalah yang dipakai Allah ribuan tahun silam. Simaklah kelanjutan kisah Hakim Surono berikut ini.

BersalahPak Surono Memecahkan Dilema Pada Hari Penghakiman

Pada hari penghakiman para wartawan dan orang-orang terkemuka berkumpul di ruang pengadilan.  Mereka sangat membenci si hakim dan berupaya untuk menjatuhkannya. Pada saat yang telah ditentukan untuk menjatuhkan vonis, Hakim Surono berkata, "Jelas bahwa dalam kasus ini terdakwa telah melanggar hukum dan harus diadili. Kami diberi tugas untuk menumpas koruptor di kota ini. Sesudah mengumpulkan semua bukti-bukti, kami harus menjatuhkan hukuman maksimal kepada terdakwa, yaitu denda Rp. 1.200.000.000 rupiah ATAU sepuluh tahun penjara."

Pak Latif tidak mempunyai cukup uang untuk membayar denda sebesar itu sehingga dia sangat marah sekali.

Pak Surono Bertindak Adil dan Juga Mengasihi Sahabatnya

Mendengar vonis tersebut, para wartawan segera pergi untuk menulis artikel mengenai hakim yang keras hati dan tidak memiliki belas-kasih terhadap teman dekatnya. Mereka benar-benar ingin mempermalukan Hakim Surono di depan rakyat.

Sebelum mereka sempat keluar, Hakim Surono meninggalkan meja hijaunya dan menghampiri Pak Latif. Ia menanggalkan jubah-hakimnya.  Lalu ia membuka dompetnya dan memberikan kepada Pak Latif selembar cek senilai jumlah denda. Untuk mendapatkan uang sebesar itu, Hakim Surono telah menjual rumah dan mobilnya. Karena dia mengasihi temannya, dia rela mengorbankan semua harta miliknya. Dengan terharu, Pak Latif dapat  membayar dendanya dan terbebas dari hukuman.  

Bagaimana Allah Mengadili dan Mengasihi Manusia Berdosa

Isa Al-Masih, Kalimat Allah, datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa.  Keadilan Allah tidak ditiadakan karena dosa manusia dihukum dalam diri Isa Al-Masih. Jelas, dosa manusia diadili dan dihukum!

Namun, pada saat yang sama. Allah menyatakan kasih-Nya. Isa Al-Masih telah dikorbankan dan menanggung hukuman kita. Sehingga Ia dapat memberikan Jalan Keselamatan dari hukuman dosa bagi mereka yang mau mempercayai-Nya.

Dengan demikian penyaliban Isa Al-Masih menyatakan hikmat Allah dalam merencanakan suatu jalan keselamatan yang adil dan penuh dengan kasih.

Kami mempersilahkan Saudara membaca kesaksian mengenai orang-orang yang sudah mengalami keselamatan yang ditawarkan Allah.  Juga, jika saudara berminat silahkan belajar lebih mendalam mengenai keselamatan.


Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.


Berhubung banyak komentar yang masih belum kami balas, untuk sementara komentar tidak diterima.

Comments  

# maria 2011-01-09 09:41
*
"]angan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. (Matius 10:34-36).

"Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang." (Lukas 22:36).
# erni wahyuni 2011-02-27 23:19
*
"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya". (Matius 10:34-36)

Aku tambah bingung dengan maksud ayat di atas.
# Bambang Djawi 2011-10-20 01:21
*
Seringkali manusia sulit untuk menolak, berpisah dan mengingkari segala yang berhubungan dengan harta benda apalagi hubungan kekerabatan. Bahkan, paling sulit untuk menyangkal diri. Seakan apa yang telah dilihat dan dimiliki sebagai segala-galanya, bahkan jaminan menuju hidup kekal.

Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan surga.
# Christina MM 2013-01-27 04:08
*
Menyimak cerita di atas sebenarnya memberi jawaban antara adil dan kasih. Karena kasih-Nya, Allah selalu menyatakan keadilan itu sebagai wujud kasih-Nya bagi umat-Nya. Apabila lewat hukuman yang adil itu seseorang dapat mengambil jalan yang benar, berarti Allah telah menuntunnya dengan kasih-Nya menuju ke kehidupan yang baik.

Jadi keadilan yang terjadi lewat hukuman dan membawa pembaharuan, berarti wujud kasih itu kembali dinyatakan. Ibarat seorang ayah memukul anaknya yang bermain api, itu karena sang ayah menyayangi anaknya agar jangan sampai terbakar.
# JuLita Manik 2013-06-16 23:22
*
Luar biasa sekali pengorbanan Allah, Dia rela meninggalkan surga, menjadi manusia bahkan memberikan nyawa-Nya agar kita orang berdosa bisa bebas dari hukuman.
# ari hendri 2013-08-20 05:30
*
Saya ingin berbagi dengan Sdr. Erni Wahyuni,

Dalam Alkitab, firman Allah juga diartikan pedang bermata dua, pedang api, membukakan pengertian jiwa dan roh yang dikatakan adalah gambaran membawa firman Allah yang kudus.

Matius 10:16-42 , coba dibaca ulang secara utuh. Perikop ayat di atas adalah pada zaman penganiayaan akhir zaman manusia.

Zaman ini banyak kedamaian yang tidak sejati, mereka lebih mengasihi harta kekuasaan, lebih mencintai dunia dari pada Allah. Orang-orang merasa damai dengan harta, keluarganya, kekuasaan orang tuanya. Mereka mencari damai dari harta dan kepandaiannya.

Akan tetapi Tuhan mencela hal demikian, karena damai di dunia itu tidak kekal. Hanya dengan pedang firman Allah, manusia dapat mengetahui kebenaran damai yang sejati. Jalan kebenaran yang sempurna.
# Staff Isa dan Islam 2013-08-26 14:00
~
Sdr. Ari Hendri,

Maaf komentar saudara kami edit. Karena kami sedikit sulit untuk dapat memahami tulisan saudara yang tidak begitu jelas. Agar orang lain yang membaca dapat mengerti dan memahami apa yang ingin saudara sampaikan, kami terpaksa mengedit komentar saudara dan berusaha membuatnya untuk mudah dipahami.

Semoga saudara tidak keberatan.
~
SO
# idi 2013-10-06 11:12
~
Gambaran yang rasional, manusiawi yang bijak, menjelaskan dan tegas, dan saya percaya manusia adalah dosa dan pasti Allah tidak semena-mena terhadap umat-Nya yang percaya. Bahwa keselamatan itu sudah diberikan melalui iman kepada sang Juruselamat Isa Al-Masih. Percayalah.
# selalu uji 2013-10-22 16:44
~
Allah adalah terang. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa adalah gelap. Sehingga semua manusia di bumi ini adalah keturunan gelap. Tetapi ada manusia yang mengenal Allah adalah terang. Karena kasih karunia-Nya diberikanlah Roh tak terbatas-Nya untuk menjaga dan menerangi manusia yang percaya pada-Nya. Itu bukan dari usaha manusia tapi pemberian Allah.

Segelap-gelapnya manusia di bumi ini masih ada yang paling gelap yaitu Iblis dan kroni-kroninya yang pertama kali menentang Allah. Si Iblis mempunyai rencana begitu juga Allah. Terang itu ada untuk menerangi gelap. Tetapi gelap tidak bisa menguasai terang. Gelap itu takut kepada terang sebab si terang mampu melihat isi dalam kegelapan itu. Keberadaan terang itu akan selalu dihindari dan lebih baik dipadamkan oleh gelap. Terang akan terangkat dan celakalah yang pernah terang tapi padam, karena gelap menguasai dunia. Diberikan kesempatan kedua pastilah dia bersaksi dan berjaga-jaga.
# Bergas Frenli 2014-05-22 19:09
~
Tuhan tidak mungkin menebus dosa manusia, melainkan manusia itu sendiri yang menebusnya. "Berani berbuat, berani tanggung jawab." Siapa yang berbuat kesalahan ialah yang harus menanggungnya. Berdasarkan cerpen di atas, Pak Latif sudah berbuat banyak demi Pak Surono. Karena perbuatan baiknya lebih besar dari kesalahannya, maka Pak Surono bisa diampuni. Dalam cerpen di atas juga dikatakan bahwa "denda Rp. 1.200.000.000 rupiah atau sepuluh tahun penjara." Sama halnya dengan konsep keadilan Tuhan.

"Menebus dosanya sendiri atau neraka selamanya." Tidak mungkin seseorang yang tidak bersalah dihukum atas kesalahan orang lain. Apakah itu yang dinamakan keadilan? Isa(Yesus) tidak bersalah, maka tidak sepatutnya Ia dihukum.
# Staff Isa dan Islam 2014-06-19 11:24
~
Saudara Bergas,

Seorang terdakwa atau narapidana tidak dapat membebaskan dirinya, kecuali dibebaskan oleh penebus atau orang bebas, bukan? Demikian juga manusia berdosa. Setiap orang berdosa tidak dapat membebaskan dirinya sendiri dari dosanya. Hanya Pribadi suci yang dapat membebaskan manusia berdosa.

Isa Al-Masih bersabda, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa... Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka" (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:34, 36). Bagaimana dengan saudara?
~
Solihin
# simpanse 2014-12-27 12:12
~
Itu kisah yang kau tulis benaran atau kau menulisnya lagi mabuk minum tuak sambil mengarang. Kalau tidak mengerti hukum tidak usahlah menulis cerita kacangan begitu. Orang bodoh mungkin terpesona membaca dongengmu itu namun bagi orang yang mengerti hukum membaca tulisanmu jadi tertawa terbahak-bahak. Aku sarankan kau lebih baik mengarang cerita Bobo, biar lebih seru. Sebelum kau komentari tanya dulu pada yang mengerti hukum dimana kesalahanmu dalam menulis cerita itu baru kau bisa komentari tulisanku ini. Bagaimana saudara?
# Staff Isa dan Islam 2015-02-25 08:12
~
Saudara Simpanse,

Barangkali saudara mengerti hukum, tetapi kisah di atas menggambarkan bagaimana keadilan dan kasih dipertemukan dalam waktu bersamaan. Hal ini menarik untuk memberikan gambaran tentang kasih dan keadilan Allah terhadap manusia. Allah mengasihi manusia, tetapi Allah juga memiliki sifat adil. Keadilan Allah harus selaras dengan kasih Allah. Demikian sebaliknya. Ini tidak mudah, bukan? Namun, Allah melebihi pikiran manusia.

Oleh sebab itu, Allah datang ke dunia dalam Pribadi Isa Al-Masih untuk menyelamatkan manusia sebagai kasih-Nya kepada manusia, tetapi Allah dalam Pribadi Isa Al-Masih merelakan diri-Nya menerima hukuman itu sebagai wujud keadilan Allah ganti manusia yang berdosa. Pertanyaannya adalah maukah saudara menerima kasih Allah tersebut? Maukah saudara menerima dan percaya pada Isa Al-Masih yang telah menyelamatkan manusia dari dosa? Mengapa?
~
Solihin