Ikuti Isa dan Islam di Facebook Ikuti Isa dan Islam di Tweeter
Cetak

Agama Allah dan Pelaku Kekerasan Di Rumah Tangga

PerajamanAdam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Allah. "Tuhan Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Taurat, Kejadian 2:18). Demikianlah Allah menciptakan Adam dan Hawa sepadan.

Derajat Wanita Dibawah Derajat Pria

Sebuah media online 'The Australian' baru-baru ini menulis, di Iran seorang wanita akan dirajam atau digantung. Di Arab Saudi, seorang presenter televisi dipukul sampai pingsan oleh suaminya karena percekcokan. Di Pakistan, 80 persen dari perempuan adalah korban dari kekerasan dalam rumah tangga, sedangkan 40 persen di Turki dan 30 persen di Indonesia. Pelaku kekerasan jarang dihukum di negara-negara tersebut. Sebagai kontras, Pengadilan Tunisia menghukum keras pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

Hukum Rajam

Hukum rajam adalah hukuman yang diberikan kepada orang yang melakukan perjinahan, beberapa negara Islam seperti Iran, Pakistan, Somalia masih menerapkan hukum ini. Sayangnya, hukum rajam lebih memberatkan kaum wanita dibanding pria.

Kesaksian Laki-laki Lebih Bernilai dari Kesaksian Perempuan?

Menurut hukum Syariah, harus ada 4 atau 3 saksi laki-laki dan 2 perempuan untuk membuktikan perzinahan (kesaksian satu laki-laki bernilai dua perempuan). Keputusan hukuman sering didasarkan oleh “penilaian pengadilan” yang selalu berubah. Keputusan pengadilan biasanya memiliki faktor diskriminasi. Mengapa? Karena pandangan mengenai perempuan sebagai penggoda dan asal dari fitnah atau pertengkaran dalam masyarakat Islam.

Walaupun hukuman untuk perzinahan sama untuk laki-laki dan perempuan, hampir semua terdakwa adalah perempuan yang sudah menikah. Laki-laki secara legal boleh memiliki 4 istri dan banyak pernikahan sementara. Demikian mereka bisa menyatakan bahwa hubungan mereka hanya sementara atau tidak resmi (nikah siri).

Bagaimana Pandangan Kristen Terhadap Wanita/Isteri

Sangat disayangkan apabila kita umat beragama tidak mengasihi para istri/wanita sebagai suatu anugerah dari Allah. Dengan jelas firman Allah dalam Injil, surat Kolose 3:19 mengatakan: "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”. Maka demikianlah seharusnya pengikut Isa Al-Masih dalam memperlakukan wanita/isterinya, sesuai dengan kebenaran Firman yang telah disampaikan oleh Allah.

Ada tertulis dalam Injil bagaimana Isa Al-Masih memandang seorang wanita yang kedapatan berjinah dan hendak diadili oleh para ahli kitab. “Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Injil Rasul Besar Yohanes 8:7). Adakah manusia yang tidak berdosa? Tentu tidak ada! Maka manusia tidak berhak mengadili dosa sesamanya.Isa Al-Masih Adalah Terang Dunia

Isa Al-Masih mengajarkan bahwa semua manusia berdosa dan layak di hukum, tanpa terkecuali. Namun, bagi mereka yang datang kepada Isa Al-Masih akan mendapatkan pengampunan. Karena Dia adalah terang dunia sehingga bagi mereka yang mengikuti Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan dosa. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Injil Rasul Besar Yohanes 8:12).

Sudahkah saudara mendapatkan “TERANG” itu? Kami mengundang saudara menyelidikinya pada “Jembatan Keselamatan


(MS)

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Berhubung banyak komentar yang masih belum kami balas, untuk sementara komentar tidak diterima.

Comments  

# mulya 2011-08-02 00:59
*
Bila seorang suami semena-mena terhadap istri tanpa alasan yang sesuai hukum Islam, itu adalah dosa dan ada ganjarannya yang setimpal.

Kemudian saya balik bertanya pada saudara, apakah semua umat Kristen telah mengayomi para wanita sesuai dengan ajaran Kristus? Apakah tidak ada seorang umat Nasrani yang semena-mena kepada istrinya?

Bagaimana dengan pergaulan sex bebas yang dianut oleh para umat Nasrani? Apakah itu mengayomi wanita dan sesuai ajaran Kristus? Bagaimana nasib wanita yang hamil oleh karena budaya sex bebas tersebut yang tidak diakui oleh pasangannya dan bagaimana dengan bayi yang dikandungnya?
# Staff Isa dan Islam 2011-08-04 09:36
~
Saudara benar, tidak sedikit orang yang mengaku sebagai Kristen masih hidup jauh dari kebenaran firman Allah. Melakukan pergaulan sex bebas, kekerasan dll.

Tapi, jelas seseorang yang telah menerima Keselamatan dan Hidup Baru dalam Isa Al-Masih mengerti dengan benar bagaimana dia harus memperlakukan isterinya. Firman Tuhan berkata, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Injil, Surat Kolose 3:19)

Jelas ayat di atas bertentangan dengan ajaran Al-Quran, sura 4:34 yang memperbolehkan seorang suami memukul isterinya.
~
SO
# nureen rafi 2011-08-04 12:55
*
"Dan apabila hal itu diberitahukan atau terdengar kepadamu, maka engkau harus memeriksanya baik-baik. Jikalau ternyata benar dan sudah pasti, bahwa kekejian itu dilakukan di antara orang Israel" (Ulangan 17:4).

"Maka engkau harus membawa laki-laki atau perempuan yang telah melakukan perbuatan jahat itu ke luar ke pintu gerbang, kemudian laki-laki atau perempuan itu harus kaulempari dengan batu sampai mati"
(Ulangan 17:5).
# Staff Isa dan Islam 2011-08-08 13:12
~
Hukum Perjanjian Lama memerintahkan hukuman mati untuk berbagai perbuatan: pembunuhan penculikan, perzinahan, pemerkosaan dan berbagai kejahatan lainnya.

Namun demikian, Allah seringkali menyatakan kemurahan ketika harus menjatuhkan hukuman mati. Daud pernah melakukan kejahatn di mata Allah, namun Allah tidak menuntut untuk nyawanya diambil (Kitab Nabi 2 Samuel 12:13).
Pada akhirnya semua dosa yang kita perbuat sepantasnyalah diganjar dengan hukuman mati.

Syukur kepada Tuhan karena kepada kita dengan tidak menghukum kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Injil, Surat Roma 5:8)
~
SL
# Putra 2013-05-08 22:01
*
Membina rumah tangga yang baik dalam perkawinan memang sulit, bukankah di awal pernikahan sudah ada komitmen untuk selalu selamanya. Menurut saya justru ketika ada masalah dalam keluarga, itulah kita akan menemukan jalan bagaimana kita bisa mencari jalan keluarnya bersama dengan cinta kasih.

Saya punya saudara yang telah menikah, istrinya selingkuh dan ketahuan suaminya, tetapi ada hal yang saya kagumi. Saudara saya tidak langsung memukuli istri, melainkan pergi menenangkan hati dan kembali mengasihi istrinya dan sang istri sadar bahwa sangat sabarnya sang suami. Hingga kini mereka berdua tetap menjadi satu keluarga, karena bagaimanapun juga tidak sempurnanya sang istri atau suami, dia tetap pasangan hidup kita.
# Staff Isa dan Islam 2013-05-10 20:03
~
Saudara Putra,

Terimakasih untuk penjelasan saudara di atas, juga kesaksian yang sudah saudara bagikan. Semoga mereka yang membaca komentar saudara dapat semakin memahami dan menghargai sebuah pernikahan.

Sebagaimana yang firman Allah katakan: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).
~
SO
# agus santoso 2013-05-30 11:01
*
Bagaimana dengan wanita dalam ajaran Islam, bahwa surga istri ada pada suami. Benarkah?
# Staff Isa dan Islam 2013-06-04 13:29
~
Saudara Agus Santoso,

Menurut kami “surga” yang dimaksud pada kalimat tersebut bukanlah “surga” seperti yang digambarkan dalam kitab suci. Yaitu surga tempat berkumpul orang-orang saleh setelah hari penghakiman Tuhan tiba.

Pernahkah saudara mendengar ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu?” Menurut kami “surga” yang dimaksud mempunyai arti yang sama pada kedua kalimat tersebut. Hanya dalam arti kiasan, bukan arti hurufiah atau sebenarnya. Sebab bagaimana mungkin di telapak kaki ibu ada surga? Bagaimana mungkin pada suami ada surga, sementara di akherat nanti suami juga akan diadili?

Kitab Suci Injil memberi gambaran tentang surga, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Injil, Rasul Besar Matius 22:29).

Ketika hari kebangkitan atau hari penghakiman Allah tiba, setiap orang wajib mempertanggung- jawabkan kehidupannya. Di sini tidak ada lagi yang disebut isteri atau suami. Lebih jelasnya, saudara dapat membaca artikel yang membahas tentang hal tersebut pada link ini: http://tinyurl.com/7anyq6l.
~
SO
# tanah karo simalem 2013-06-04 01:38
*
Ajaran ini tidak dapat diikuti oleh "semua" umat manusia: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Karena "tidak semua" manusia yang menikah akan tetap dapat bertahan utuh abadi. Pasti ada yang gagal, bahkan bercerai dan mereka yang mengikuti ajaran tersebut akan kesusahan mencari kedamaian hidup dan menderita seumur hidup.

Bandingkan dengan ini; “…Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak bisa berlaku adil maka kawinilah satu saja”

Dan perbuatan yang halal tapi dibenci oleh Tuhan adalah perceraian. Tidak ada haram, betapa naifnya Tuhan mengharamkan pernikahan karena sifat manusia adalah melampaui batas, sehingga memberikan peluang kebaikan bagi yang tidak harmonis dalam keluarga.
# Staff Isa dan Islam 2013-06-04 13:30
~
Ketika seseorang akan menikah, di hadapan pendeta, saksi, keluarga, kepada Allah dan kepada pasangannya, dia telah berjanji akan mencintai pasangannya seumur hidupnya. Baik dalam keadaan susah maupun senang. Inilah janji pernikahan yang bukan hanya sekedar diucapkan, tetapi juga ditaati kedua mempelai.

Benar, dalam pernikahan pasti ada ketidak-cocokan . Jelas tidak mudah untuk menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Apakah bercerai atau menikahi wanita-wanita lain adalah jalan keluar dari masalah tersebut? Jelas tidak!

Firman Allah berkata, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Injil, Surat Kolose 3:19). Ketika seorang suami dapat mengasihi isterinya dengan tulus, kami percaya dia bisa memenuhi ajaran Yesus yang mengatakan “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6).

Pernikahan pertama yang Allah ciptakan adalah pernikahan monogami. Sebagai Allah yang maha tahu, tentu Allah sudah mengetahui dampak dari pernikahan monogami.

Sehingga, mustahil Allah akan merubahnya menjadi: “…Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak bisa berlaku adil maka kawinilah satu saja” karena Allah tahu, tidak ada manusia yang dapat bersifat adil.
~
SO
# Putra 2013-06-08 21:21
*
To: Tanah Karo Simalem,

Dalam mengarungi rumah tangga tidaklah semudah membalik tangan (Injil, Rasul Besar Matius 19:6) namun justru itulah yang membuat pernikahan itu suci. Itulah pedoman kita dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami istri dan anak.

Manusia sering sekali mencari jalan pintas. Sehingga jika ada masalah dalam rumah tangga, jalan keluarnya perceraian. Dalam Injil sangat melarang perceraian. Tidak ada satu ayatpun yang melegalkan perceraian. Sehingga andaikata ada penganut Injil yang cerai, jelas dia berdosa. Dan biasanya pelaku akan keluar dari agama yang dianut kemudian berpindah agama lain supaya bisa menikah lagi.

Pernikahan hendaknya benar-benar didasari rasa cinta dan kasih sayang. Namun yang terjadi kebanyakan pernikahan terjadi karena nafsu. Bayangkan bagaimana perasaan sebagai anak korban perceraian?

Perselisihan pasti terjadi dalam rumah tangga. Dsaat itulah kesetiaan kita terhadap pasangan diuji oleh Tuhan
# katolik sejati 2013-09-17 15:24
*
Saya ada beberapa pertanyaan untuk Islam. Ajaran Isa-Al Masih perkawinan itu kan bersifat monogami. Beda sekali dengan ajaran yang dibawa muhammad. Perkawinan bersifat poligami.

Pertanyaan saya: Apakah Allah dalam Al-Quran tidak tahu bahwa tidak ada satu pun manusia yang bisa adil? Atau mungkinkah Allah dalam Al-Quran ingin menguji manusia sehingga mengizinkan poligami?

Terimakasih atas jawaban dari kaum Islam atau dari staf IDI yang bisa menjelaskan kepada saya soal perkawinan kenapa beda antara Islam dan Kristen?
# El Hasan 2013-09-17 23:22
*
Katolik Sejati,

Apakah anda yakin Alkitab tidak mengabarkan perkawinan poligami? Berapa banyak isteri yang dimiliki Abraham, Yakub, Daud, Salomo, dan yang lainnya semua mempunyai banyak istri.

Menurut ajaran Islam semua hal di bumi ini adalah ujian bagi manusia, termasuk kesenangan, kesusahan, kesehatan, kesakitan, isteri, anak, harta jabatan dsb semua itu hanyalah ujian. Tinggal bagaimana cara manusia setelah mendapat bimbingan Tuhan melalui ajaran yang telah diterangkan oleh rasul-rasul-Nya agar semua ujian dalam bentuk apapun itu bisa menjadikan hidup manusia lebih baik, baik untuk dirinya maupun lingkungannya agar bisa diterima oleh Allah sebagai orang yang taat kepada Sang Pencipta. Hanya orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya saja yang akan memperoleh kebahagian akhirat.
# Staff Isa dan Islam 2013-09-18 15:01
~
Saudara El Hasan,

Kami tidak menyangkal bahwa nabi-nabi pada zaman sebelum Isa Al-Masih ada yang mempunyai isteri lebih dari satu.

Tapi yang perlu saudara ketahui, Alkitab tidak pernah sekalipun memberi perintah untuk berpoligami. Beda dengan Al-Quran. Di sana jelas-jelas dikatakan seorang pria Muslim boleh mempunyai isteri hingga 4 sekaligus. Sungguh jelas bukan perbedaanya?

Bila saudara mengatakan bahwa seluruh yang ada di dunia ini adalah ujian, berarti saudara setuju bila kami mengatakan berpoligami juga merupakan ujian. Ujian bagi manusia, agar dia tidak serakah untuk mempunyai isteri lebih dari satu. Ujian bagi manusia agar dia dapat bersyukur atas isteri yang sudah dia miliki.

Pertanyaan kami: Mengapa nabi saudara mempunyai isteri lebih satu satu? Apakah itu artinya dia tidak dapat mengendalikan nafsunya dan tidak lolos pada ujian yang Tuhan berikan? Ingat, kami tidak menerima jawaban yang mengatakan Muhammad menikahi isteri-isteriny a untuk menolong. Karena pada kenyataannya tidak demikian.
~
SO
# katolik sejati 2013-09-19 09:01
*
El Hasan,

Jika jika anda tidak tahu soal kenapa mereka berpoligami, kenapa anda seolah-olah mendukung bahwa ajaran Muhamad soal poligami diizinkan oleh Allah?

Nabi-nabi kitab Perjanjian Lama alias nabi sebelum Yesus Kristus / Isa Al Masih berpoligami bukan karena Allah menyuruh mereka untuk berpoligami! Akan tetapi itu karena keserakahan mereka. Beda dengan Allah dalam Al-Quran yang menurunkan ayat untuk poligami.

Makanya saya bertanya, itu patut diselidiki benarkah Allah menyuruh poligami atau monogami. Kenapa saya menyuruh anda mencari ayat di Alkitab? Karena kitab yang ada sebelum Al-Quran adalah kitab Taurat, Zabur dan Injil yang dibukukan yaitu Alkitab.
# Staff Isa dan Islam 2013-09-19 10:14
~
Saudara El Hasan,

Kami mengucapkan terimakasih untuk setiap penjelasan yang saudara berikan. Tapi maaf, kami terpaksa menghapus komentar tersebut.

Saran kami, dalam memberi komentar kiranya saudara dapat memperhatikan aturan-aturan berikut ini:

1. Tidak boleh memakai lebih dari satu kolom komentar.
2. Pertanyaan/masu kan harus berhubungan dengan uraian diatas. 
3. Sebaiknya satu atau dua pertanyaan dalam satu kolom komentar.
4. Hanya menggunakan bahasa Indonesia yang umum dan dimengerti semua orang.
5. Tidak memakai singkatan-singk atan, misalnya yg, dlm, sdh, tdk, dlsbgnya.
6. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
7. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.

Demikian, kiranya saudara dapat maklum adanya.
~
SO
# Trisno 2013-10-30 17:34
~
Ajaran agama yang diyakini banyak orang sebagai agama penyempurna dari agama sebelumnya itu, memang semakin jelas sangat bertolak belakang dari segi manapun juga. Saya sangat berterimakasih pada staff IDI karena dengan adanya situs ini menjadikan saya sering membaca Alkitab dan Al-Quran juga mengikuti diskusi dengan teman-teman satu kerja.

Sayang sekali ada saja yang tidak mau terima penjelasan saya, tetapi ada juga yang malah semakin banyak bertanya namun kebanyakan dari mereka yang tidak mau meneruskan pembicaraan. Terang itu semakin jelas dengan adanya Situs ini, semoga Tuhan melimpahkan rahmat-Nya pada semua staff IDI.
# alex 2014-02-21 00:46
~
Takut juga ya kalo punya anak wanita dinikahin pria Muslim. Soalnya kalau laki-laki punya banyak duit cenderung akan berfikir kawin lagi. Teradang sudah punya istri saja nafsunya lekaki bisa menyala bila lihat rumput tetangga. Sangat terbuka sekali peluang menyiksa wanita dalam Al-Quran. Bukankah dengan adanya ayat ini membuat pria Muslim mempertimbangka n perintah tersebut?
# agus 2014-03-13 21:30
~
Salma, saya mau bertanya. Pertanyaan saya cukup sederhana saja. Paulus pernah mengatakan, yakni seorang umat percaya seharusnya mengambil istri yang sebanding, dan Paulus menambahkan "Apakah terang bisa bercampur dgn gelap?" Jadi maksud Paulus adalah orang Nasrani haruslah mengambil istri orang Nasrani pula. (begitulah makna yang bisa saya tangkap).

Tapi masalahnya doktrin tersebut tidak berhenti sampai di situ saja, secara kenyataan banyak sekali orang Nasrani menikah dengan orang Nasrani tapi hasilnya mereka sering bertengkar dan bercerai (lihat kehidupan rumah tangga orang-orang Eropa yang kawin cerai seenaknya sendiri). lalu bagaimana pendapat Salma melihatkenyataa n seperti itu?
# Staff Isa dan Islam 2014-04-30 18:46
~
Salam Sdr. Agus,

Kami menyampaikan terimakasih untuk pemaparan saudara yang sangat baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak saja di Eropa ada banyak di belahan dunia ini yang kawin cerai. Dan hal tersebut juga tidak jarang terjadi di kalangan umat Nasrani. Setiap rumah tangga tentu memiliki konflik dan hal tersebut konon katanya bumbu dalam pernikahan. Tetapi jika seorang pria dan wanita tidak mengetahui tujuan pernikahan maka mereka akan menganggap pernikahan hanya sebatas legalitas belaka.

Ketika Allah menciptakan pernikahan tentu Dia memiliki satu tujuanyakni agar dua pribadi yang berbeda dapat menjadi satu dan itu adalah kelengkapan yang sempurna. Isa Al-Masih tidak memperkenankan untuk bercerai. Hal tersebut juga dikatakan oleh Rasul Paulus. Seiman setidaknya dapat membuat satu keluarga mengenal Allah secara lengkap. Itu tujuannya. Jika banyak yang melanggar ajarna Isa Al-Masih tentu mereka harus menanggung konsekuensi dari sebuah keputusan yang diambil,
~
Salma
# Staff Isa dan Islam 2014-04-30 15:45
~
Salam Sdr. Dani dan Sdr. Gindal

Kami menyampaikan terimakasih untuk kunjungan saudara. Kami akan sangat menghargai jika saudara dapat memberikan komentar sesuai dengan topik dalam artikel. Dan silakan menggunakan bahasa yang santun. Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.
~
Salma
# Muhammad Rajab Habib 2014-05-11 21:43
~
Saudaraku, selalu berfikir jernihlah. Anda yang punya blok ini mengingatkan, janganlah tendensius. Kenyataannya, anda-anda sangat arogan, memojokkan dan tidak dapat menerima pendapat pihak lain. Anda hapus email-email yang anda tidak senangi, karena mencoba meluruskan sudut pandang anda.

Contoh Muslim yang benar adalah Rasulullah SAW dan diikuti para sahabat dan seterusnya, yang tetap berpegang pada Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW seorang pemimpin di segala bidang, tidak sungkan mencuci pakainnya sendiri. Abu Bakar RA, tidak pernah meminta makanan khusus ke istri beliau. Umar RA, selalu membantu urusan rumah tangganya. Seorang sahabat terlanjur memukul istrinya karena marah, kemudian sang istri mengadu ke Rsulullah SAW. Setelah dikonfrontir, benar, Rasulullah SAW memerintahkan suami untuk menceraikan.

Salam
# Staff Isa dan Islam 2014-06-21 11:34
~
Salam Sdr. Muhammad Rajab,

Terimakasih untuk pemaparan saudara. Tetapi jika pernyataan saudara itu benar, lalu bagaimana dengan ayat ini? “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka” (Qs 4:34).

Bukankah ini menandakan bahwa ada ketidaksinkrona n antara ajaran Al-Quran dan Hadist Muhammad? Manakah yanglebih shaih antara hadist dan Al-Quran? Dapatkah dipercaya?
~
Salma
# Putra 2014-05-19 21:07
~
Muhammad Rajab Habib,

Memukul adalah suatu ungkapan emosi karena marah, dan sebagai manusia yang memiliki batas pasti pernah marah. Namun, sebisa mungkin tidak dengan memukul istri apalagi setelah itu menceraikannya. Kenapa waktu itu Muhammad justru menyuruh menceraikannya? Lantas apabila cerai, bagaimana dengan manisnya madu di awal perkawinan? Bukankah sebaiknya muhammad menyuruh sahabatnya untuk bersabar dan berdamai dengan istrinya adalah hal yang lebih baik?
# Staff Isa dan Islam 2014-06-21 11:38
~
Salam Sdr. Putra,

Terimakasih untuk pemaparannya.

Kami sepakat dengan saudara, ketika dalam hubungan suami istri terjadi konflik tentu itu sudah biasa. Hal yang tidak biasa adalah dengan melakuka kekerasan. Sebab kekerasan bukanlah menyelesaikan sebuah masalah tetapi semakin membuat masalah semakin sulit.

Alkitab sangat memberikan pelajaran terbaik bagi pasangan suami istri. Seperti apa yang terdapat dalam Injil, surat Kolose 3:19 mengatakan: "Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”
~
Salma
isadanislamstudi.com

* Untuk bisa masuk ke pelajaran kursus ini, non-aktifkan 'pop-up blocker' komputer Saudara dengan meng-klik di sebuah 'bar' di bawah 'status bar' di bagian atas layar komputer

Isa Islam Dan Kaum Wanita

Click gambar di samping untuk artikel - artikel untuk wanita Muslim


 

www.isaislamdankaumwanita.com