Ikuti Isa dan Islam di Facebook Ikuti Isa dan Islam di Tweeter

Mengapa Sebaiknya Muslim Mengenal Allah Sebagai "Bapa"

Ayah dan AnakPada tahun 1970 saya berdiskusi dengan seorang polisi beragama Islam yang berkunjung ke rumah saya di Jawa. Dalam diskusi beliau berkata, adalah salah memanggil Allah “Bapa.” Mengapa dia merasa begitu? Sebaliknya, mengapa orang Kristen senang memanggil Allah “Bapa”?

Mari kita mendiskusikan orang Islam dan Allah Bapa.

Al-Quran Menolak Konsep Allah Sebagai “Bapa” Orang Percaya

Qs 112:3: “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” Kesimpulannya Allah tidak menjadi Bapa seorangpun karena Ia tidak beranak.

Qs 5:18: Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: ‘Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.’ Katakanlah: ‘Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?’ (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya) . . .”

Pemakaian Metafora dalam Alkitab dan Al-Quran

Kitab Injil tidak pernah berkata orang Kristen anak Allah secara biologis. Pemakaian istilah “anak” Allah dan Allah “Bapa” merupakan metafora. Wahyu Allah memakai metafora berulang kali untuk menolong kita mengerti relasi antara manusia dengan Allah.

Para Mukmin mengerti metafora karena ayat “Kursi Allah.” Qs 2:255 mengatakan kursi Allah meliputi langit dan bumi. Kita semua tahu Allah zat rohani. Ia tidak duduk di kursi.  Istilah “kursi” adalah metafora yang menggambarkan kuasa mutlak Allah atas semesta alam, bukan?

Mengapa Orang Kristen Memanggil Allah “Bapa”?

Isa, walau Kalimat Allah yang kekal, selama di dunia hidup seperti manusia biasa. Dia menjadi teladan buat kita bagaimana berdoa. Isa Al-Masih puluhan kali memanggil Allah “Bapa.” Ia memulai doa-Nya dengan “Bapa.”

Juga saat Isa mengajar para rasul-Nya berdoa, Ia menyuruh mereka mulai dengan, “Bapa kami . . .” (Injil, Rasul Besar Matius 6:9-13).

Para Mukmin menghargai Isa Al-Masih. Yang membingungkan: Mengapa nabi Islam mencela orang Kristen karena menamakan Allah “Bapa” walau Isa sendiri mengajar berdoa demikian?

burungAyat-ayat Kenikmatan Orang yang Mengenal Allah sebagai “Bapa”

Lihatlah burung-burung di udara. Mereka tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan makanannya di lumbung. Namun, mereka dipelihara oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu lebih bernilai daripada burung-burung itu?” (Injil, Rasul Besar Matius 6:26).

Sang Bapa sendiri telah mengasihi kamu. Sebab kamu sudah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Sang Bapa” (Injil, Rasul Besar Yohanes 16:27).

Camkanlah! Betapa besar kasih yang dikaruniakan kepada kita oleh Sang Bapa, sehingga kita disebut anak-anak Allah . . .” (Injil, Surat I Yohanes 3:1).

Maukah Anda mengalami kenikmatan yang tertulis dalam ayat-ayat suci di atas? Kenikmatan anak yang mempunyai “Bapa” sorgawi? Kenikmatan ini tersedia bagi semua yang menerima Isa Al-Masih sebagai Juruselamat!

[Staf Isa dan Islam – Untuk informasi lebih lanjut, silakan mendaftar untuk menerima secara cuma-cuma Buletin Mingguan "Isa dan Al-Fatihah."]

Focus Pertanyaan Untuk Dijawab Pembaca

Staf IDI berharap Pembaca hanya memberi komentar yang menanggapi salah satu pertanyaan berikut:

  1. Orang Islam dan Allah Bapa – Kira-kira kesan apa pada orang Islam kalau Allah benar-benar menjadi Bapa mereka?
  2. Mengapa nabi Islam bertentangan dengan konsep memanggil Allah “Bapa” walau ini perintah Isa Al-Masih sendiri?
  3. Beranikah Anda memanggil Allah “Bapa”? Jelaskanlah jawaban Anda.

Komentar yang tidak berhubungan dengan tiga pertanyaan di atas, walaupun dari Kristen maupun Islam, maaf bila terpaksa kami hapus.

Untuk menolong para pembaca, kami memberi tanda ***** pada komentar-komentar yang kami rasa terbaik dan paling menolong mengerti artikel di atas. Bila bersedia, silakan juga mendaftar untuk buletin mingguan, “Isa, Islam dan Al-Fatihah.”

 

Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Komentar hanya diperbolehkan menjawab salah satu dari 3 pertanyaan fokus yang dimuat di bagian akhir artikel. Kecuali beberapa artikel yang tidak memuat 3 pertanyaan fokus.
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments  

# rizal 2016-11-07 17:31
~
Solihin,
Mengapa nabi Islam bertentangan dengan konsep memanggil Allah “Bapa” walau ini perintah Isa Al-Masih sendiri?
-
Setiap nabi yang datang itu memakai bahasa serta istilah yang mereka kenal di lingkungannya. Qs 14:4, Maka dari itu karena Nabi Isa hanya diutus bagi bangsa Israel pada masa itu saja maka Nabi Isa sering memakai kata "bapa" kepada Allah agar para pengikut Nabi Isa mengerti. Tapi kalau zaman sekarang apalagi di Indonesia kata "bapa" dipakai untuk menyebut Allah maka maknanya akan lain. Sedangkan Allah itu bukan laki-laki dan bukan perempuan. Allah itu unik dan tidak ada yang sama dengan Allah.
~
Beranikah Anda memanggil Allah “Bapa”? Jelaskanlah jawaban Anda.
-
Buat apa kita harus memanggil Allah dengan sebutan bapa? Hanya memanggil Allah saja sudah cukupkan?
# Staff Isa dan Islam 2016-11-07 22:48
****
Saudara Rizal,

Kami berterimakasih untuk usaha saudara menjawab pertanyaan kami. Tetapi pernyataan saudara di atas tidak menjawab pertanyaan kami. Mengapa nabi saudara bertentangan dengan konsep memanggil Allah “Bapa” walau ini perintah Isa Al-Masih sendiri? Pertanyaan kami adalah tentang nabi saudara. Kami berharap saudara mengerti hal ini.

Sebutan “Bapa” tidak ada hubungannya dengan zaman. Sebab Allah adalah kekal. Isa Al-Masih telah memberikan teladan kepada manusia untuk memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”. Sebuah sebutan yang menunjukkan relasi yang sangat dekat dengan Allah. Ini berarti manusia dapat berhubungan dengan Allah kembali karena Isa Al-Masih telah menyelamatkan manusia dari dosa. Kiranya ini jelas bagi saudara.
~
Solihin
# Alif 2016-11-07 17:51
~
Memanggil Alloh saja cukup, kalau kurang tambah dengan asmaul husna, bapa itu kesannya laki-laki dan Alloh tidak berkelamin. Maaf untuk jawaban saya ini untuk staff IDI jangan dikomentari karena biasanya kalau dikomentar staff IDI suka menimbulkan pertanyaan baru dan kalau dijawab lagi nantinya dihapus juga. Biasanya pakai jurus dihapus dianggap ott, hargai komentar para Muslim.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-07 22:49
~
Saudara Alif,

Pendapat saudara di atas sah-sah saja. Allah adalah gelar yang lazim digunakan manusia untuk menyebut Yang Agung. Gelar ini menandakan bahwa Allah itu bersifat transenden (jauh). Tetapi Isa Al-Masih menyebut Allah dengan “Bapa” menandakan Allah itu bersifat imanen (dekat). Artinya manusia dapat memiliki relasi yang sangat dekat dengan Allah sekalipun Dia tak terjangkau.

Bagaimana dengan alloh Islam? Tampaknya tidak ada indikasi dalam Al-Quran tentang keberadaan alloh saudara, sehingga nabi saudara pun tidak mengenal alloh saudara, kecuali sebatas konsep. Pertanyaannya adalah beranikah saudara memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”? Mengapa?

Mengenai komentar yang dihapus. Kami kira ketentuan situs ini sudah jelas. Bahwa setiap komentar atau tanggapan yang tidak sesuai dengan topik di atas pasti dihapus. Saudara tidak perlu kuatir bahwa kami menghargai setiap komentar Muslim maupun Kristen.
~
Solihin
# pedro eza 2016-11-07 18:42
~
Bagi Yesus, istilah ‘Bapa’ memiliki arti yang sangat khusus. Allah merupakan “Bapa” dalam arti tak terduga: tidak hanya sebagai Pencipta, tetapi sebagai Bapa yang kekal dalam hubungannya dengan Putera-Nya yang tunggal, yang adalah Putera hanya dalam hubungan-Nya dengan Bapa-Nya. Matius 11:27 “Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang-orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”
# Staff Isa dan Islam 2016-11-07 22:49
~
Saudara Pedro,

Istilah tersebut juga menandakan sebuah relasi yang sangat dekat. Artinya sebagaimana relasi Isa Al-Masih dengan Bapa demikian juga Isa Al-Masih mengharapkan manusia memiliki relasi yang dekat dengan Bapa. Sebuah relasi yang tidak dipahami oleh orang-orang yang memandang bahwa Allah sangat jauh dan tidak terjangkau. Namun, hubungan dekat ini hanya dapat tercipta bila manusia percaya pada Isa Al-Masih sebagai Tuhan dan Juruselamat. Terimakasih saudara Pedro.
~
Solihin
# Usil 2016-11-07 20:20
~
Sudahlah Nasrani, Jelaskan. Allah dalam wajahnya seperti apa yang akan kalian temui di Surga nanti, kalau Allah adalah Bapa,Yesus dan roh kudus! Allah berwajah tiga, yaitu Bapa, Yesus dan Roh Kudus (mirip dewa Trimurthi dalam ajaran Hindu) atau wajah Bapa, wajah Yesus dan wajah Roh Kudus sebagai Allah (Tuhan kalian) yang berarti Tuhan saudara (Allah) berjumlah tiga.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-07 22:49
~
Saudara Usil,

Trimurthi berbeda dengan Allah Tritunggal. Kami menyadari tidak mudah memahami Tritunggal, tetapi bukan berarti tidak dapat dijelaskan sekalipun penjelasan tersebut tidak akan sempurna mengingat keterbatasan manusia. Sebab yang dibicarakan adalah Allah yang maha tak terbatas. Bila saudara tertarik mendiskusikan ini, silakan saudara mengunjungi link ini http://tinyurl.com/d2k6hcw. Terimakasih saudara Usil.
~
Solihin
# Tomy 2016-11-07 20:22
~
Menyebut Allah dengan Allah Bapa membuat umatnya terasa lebih dekat kepada Allah, walaupun manusia berdosa tetapi Allah selalu menginginkan kita selalu dekat dengan-Nya. Saya rasa itu maknanya.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-07 22:49
~
Saudara Tomy,

Pemahaman yang baik sekali. Sebutan “Bapa” menjadikan hubungan Allah dan manusia sangat dekat ibarat seorang ayah dengan anaknya. Ini sebuah relasi yang tak dipahami sebelum Isa Al-Masih. Tetapi Isa Al-Masih memberikan teladan agar manusia memanggil Allah dengan “Bapa”. Tentu indah dan menyenangkan memiliki kedekatan dengan Bapa. Terimakasih saudara Tomy.
~
Solihin
# threessia Sompie 2016-11-07 20:53
~
Mau manggil bapa, apa abah, apa daddy, ga ada masalah. Jadi ga bener kalau dipakai jadi sebutan bapaknya seorang nabi.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-08 08:32
~
Saudara Threessia Sompie,

Memiliki hubungan yang dekat dengan Allah akan memberikan dampak pada sebutan yang lebih dekat lagi. Ini menandakan ada sebuah relasi yang dekat dengan Allah. Tentu indah memiliki hubungan yang dekat dengan Bapa. Bukankah memanggil Allah dengan sebutan “Bapa” merupakan rahmat dari Allah?

Bagaimana dengan saudara? Memanggil alloh saudara dengan sebutan alloh tidak menunjukkan kedekatan dan adanya relasi antara saudara dengan alloh saudara. Sebaliknya, sebutan itu membuat jurang pemisah antara alloh saudara dan saudara. Pertanyaannya adalah beranikah saudara menyebut alloh saudara dengan sebutan “Bapa”? Mengapa?
~
Solihin
# Glenn surya 2016-11-07 21:47
~
Orang Kristen memanggil Allah itu Bapa bukan dengan maksud bahwa Allah itu memiliki kelamin.Tetapi sebagai bentuk relasi antara Tuhan pencipta langit dan bumi ini dengan umat manusia. Bayangkanlah jika pencipta langit dan bumi ini adalah orangtua anda sendiri. Yohanes 1:12 "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”
# Staff Isa dan Islam 2016-11-08 08:33
~
Saudara Glenn,

Memahami Allah seolah-olah Allah itu manusia akan memunculkan pemahaman Allah memiliki kelamin. Jelas ini keliru sekali. Sebutan “Bapa” bukan berarti menunjukkan kelamin, tetapi sebuah relasi yang dekat dengan manusia seperti ayah kepada anaknya. Karena itu, kami setuju dengan saudara bahwa memanggil Allah itu Bapa bukan bermaksud menunjukkan Allah itu memiliki kelamin. Terimakasih saudara Glenn.
~
Solihin
# Jesus Not God 2016-11-07 23:11
~
Terserah kalian umat Kristen mau memanggil Bapa? Gak ada ruginya bagi umat Islam. Istilah Bapa memang menimbulkan polemik di umat kriatiani sendiri. Karena begitu banyaknya nama panggilan untuk Tuhannya. Misalkan, Bapa, Allah, Elohim,Ya hweh, jadi nama Tuhan yang benar seperti apa? Umat Kristen mengenal panggilan Bapa. Apa umat Kristen tidak mengenal istilah Bapa? Panggilan Bapa hanya berlaku di kalangan Kristen di Indonesia saja.

Umat kristen mengadopsi istilah bapa dari agama Yunani Kuno yang mengenal Istilah Bapa /Tuhan Bapa kepada Zeus. Sebaiknya kata Bapa diganti, karena kata Bapa adalah suatu nama panggilan orang tua laki-laki. Ini sebuah bentuk penghinaan kepada Tuhan memanggil nama Bapa , mengapa tidak (ibu Tuhan) saja.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-08 08:33
~
Saudara Not God,

Sesungguhnya tidak ada polemic dengan sebutan Bapa. Sebaliknya, sebutan “Bapa” menunjukkan kedekatan dengan Allah. Lagi, sebutan “Bapa” bukan berarti Allah memiliki kelamin. Ini merupakan metafora yang menunjukkan kedekatan seorang ayah dengan anaknya. Relasi demikian merupakan sebuah keistimewaan yang dimiliki pengikut Isa Al-Masih.

Bagaimana dengan saudara? Adalah baik bila menyebut Allah dengan sebutan “Bapa” mengingat Allah telah menyatakan kasih-Nya kepada manusia. Sebab Dia telah datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa agar manusia memiliki relasi yagn dekat dengan Allah sehingga dapat memanggil-Nya Bapa. Pertanyaannya adalah beranikah saudara memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”? Mengapa?
~
Solihin
# Alif 2016-11-08 00:42
~
To: Solihin,
Sayakan sudah bilang jangan tanya lagi eh malah nanya "beranikah saudara memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”? Mengapa?
~
Saya jawab: tidak berani! Mengapa? Karena dalam ajaran Islam tidak diajarkan memanggil Alloh dengan sebutan bapa, bapa itu maknanya kecil cuma ruang lingkup keluarga tapi kalau Alloh atau dengan asmaul husna ruang lingkupnya tak terbatas, dan saudara jangan memaksa Muslim untuk menyebut bapa pada Alloh nya.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-08 08:33
~
Saudara Alif,

Memang Islam tidak mengajarkan saudara untuk memanggil-Nya Bapa. Sebab nabi saudara tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, kecuali klaim semata. Sebutan ini hanya dapat dinyatakan bila seseorang telah diperdamaikan dengan Allah. Sebab manusia adalah berdosa. Allah tidak senang dengan dosa, tetapi Allah mengasihi manusia.

Karena itu, Isa Al-Masih datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa sehingga manusia dapat memiliki relasi yang dekat dengan Allah dan dapat memanggil-Nya Bapa. Sebutan “Bapa” merupakan hak istimewa yang diberikan Allah. Pertanyaannya adalah apakah saudara memiliki relasi yang dekat dengan Allah? Mengapa?
~
Solihin
# Usil 2016-11-08 02:28
~
Trimurthi berbeda dengan Allah Tritunggal. Kami menyadari tidak mudah memahami Tritunggal, tetapi bukan berarti tidak dapat dijelaskan sekalipun penjelasan tersebut tidak akan sempurna mengingat keterbatasan manusia. Sebab yang dibicarakan adalah Allah yang maha tak terbatas.

Respon:
Kalau Allah tak terbatas dan manusia terbatas, lantas mengapa kalian bisa mengatakan bahwa Allah, yang tak terbatas, bisa menjelma menjadi manusia, yang terbatas dalam diri Yesus? Kalau Allah tidak mungkin dipahami, mengapa kalian mencoba memahami Allah dengan mengatakan Dia adalah Bapa, Yesus dan Roh Kudus? Siapakah kalian ini?
# Staff Isa dan Islam 2016-11-08 08:33
~
Saudara Usil,

Sebenarnya pertanyaan saudara sudah dijawab oleh saudara sendiri. Perhatikan kalimat saudara yang menyatakan bahwa Allah tak terbatas, tetapi mengapa Dia dapat menjadi manusia. Bila Allah tak terbatas tidak dapat menjadi manusia, maka Dia bukan Allah yang tak terbatas, tetapi Allah yang terbatas. Ini logika yang benar dan tepat.

Karena itu, Allah yang terbatas dapat masuk ke dalam keterbatasan agar yang terbatas dapat mengenal yang tidak terbatas sehingga memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Kami berharap saudara mengerti konsep ini. Pertanyaannya adalah mengapa saudara tidak memanggil alloh saudara dengan sebutan “Bapa”?
~
Solihin
# rizal 2016-11-08 07:13
~
Begini bang Solihin, Injil itukan diperuntukan bagi kaum Israel pada zaman itu saja. Makanya bahasa dan istilahnya pun hanya berlaku untuk orang Israel pada zamannya bukan untuk selamanya. Berbeda dengan Al-Quran yang ditujukan bagi seluruh umat manusia makanya bahasa dan istilahnya pun harus dapat dimengerti oleh semua manusia.

Coba anda analisa lagi artikel di atas ada foto bapa dan anak, terlihat seperti bapa dan anak biologisnya. Padahal arti bapa dalam Injil tidak di artikan sebagai bapa biologis atau anak biologis. Maka dari itu Nabi Muhammad tidak lagi memakai kata bapa untuk menyebut kepada Allah, cukup dengan sebutan "Allah" biar semua orang tidak salah dalam memahami Allah.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-09 21:03
~
Saudara Rizal,

Menyatakan bahwa Al-Quran untuk seluruh umat manusia adalah klaim yang tidak memiliki bukti sama sekali. Bila hanya berlaku pada masa itu, mengapa Al-Quran memerintahkan nabi saudara untuk bertanya kepada orang-orang yang membaca Taurat dan Injil (Qs 10:94)? Bukankah ini logika jungkir balik?

Kami senang karena saudara jeli dan memerhatikan artikel yang ada. Foto tersebut menggambarkan sebuah relasi yang dekat antara Allah dan umatnya ibarat ayah dan anak, bukan dalam arti biologis. Tentu ini indah, bukan? Pertanyaannya adalah bagaimana relasi saudara dan alloh saudara? Mengapa panggilan saudara tidak menunjukkan kedekatan saudara dengan alloh saudara?
~
Solihin
# Alif 2016-11-08 09:25
~
To: Solihin,
Nanya lagi "Pertanyaannya adalah apakah saudara memiliki relasi yang dekat dengan Allah? Mengapa?

Respon:
Muslim harus dekat Allohnya, sebagai pencipta dan penguasa alam semesta bukan dengan bapa yang hadir hanya untuk bangsa Israel (keluarga kecil). Muslim diwajibkan beribadah kepada Alloh SWT tiada Tuhan selain Alloh bentuk ketauhidan kepada sang pemilik, wajib kita memiliki relasi dekat dengan Alloh karena Alloh sendiri telah menyatakan dalam Qs 50:16.

Tidak pantas Muslim memanggil Tuhannya dengan bapa, bapa itu berkelamin. Cukup Alloh dan asmaul husna sudah lebih dari universal.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-09 21:04
~
Saudara Alif,

“Menjadi dekat” dengan “harus dekat” adalah dua hal berbeda. “Menjadi dekat” menunjukkan sebuah relasi yang terjalin. Sedangkan “harus dekat” sebatas konsep tanpa ada relasi yang terjalin. Karena itu, kalimat “Muslim harus dekat” menunjukkan tidak ada relasi yang dibangun, kecuali harapan dari pihak saudara, tetapi tidak tahu dari pihak alloh saudara.

Pertanyaannya adalah mengapa alloh saudara tidak menyatakan diri kepada nabi saudara untuk menunjukkan sebuah relasi yang dekat dengan umatnya? Bagaimana saudara?
~
Solihin
# JESUS NOG GOD 2016-11-08 09:29
~
Memang ajaran Kristiani itu membingungkan. Mengapa harus memanggil Bapa, jika kata Bapa saja hanya di gunakan Kristen Indonesia? Kata Bapa terbatas digunakan di kalangan orang yang berbahasa Indonesia? Sedangkan Umat Kristen, terdiri dari berbagai bangsa dan bahasa yang berbeda.

Apa umat Kristiani komapak memakai Istilah bapa? Saya rasa tidak. Tanya saja Kristen Afrika, Eropa? Pasti tidak mengenal kata bapa. So tidak perlu memakai kata bapa yang hanya dikenal di kalangan umat Kristen Indonesia saja.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-09 21:04
~
Saudara Not God,

Bila yang saudara maksud bahwa Kristen Afrika dan Eropa tidak menggunakan kata “Bapa” karena menggunakan bahasa Indonesia, maka itu dapat diterima. Sebab mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia. Tentu kata “Bapa” digunakan sesuai dengan bahasa mereka masing-masing.

Kami mengetahui bahwa umat Kristen dari Afrika maupun Eropa memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”. Ini menunjukkan bahwa relasi Allah dengan umat-Nya sangat dekat. Bagaimana dengan alloh saudara? Mengapa alloh saudara tidak menyatakan kedekatan dengan saudara dan umat Islam lainnya?
~
Solihin
# just4x2s 2016-11-08 12:40
~
Pertanyaan yang sangat sulit bahkan tidak bisa dijawab apabila pemikiran umatnya hanya dibatasi dengan apa yang ada di kitabnya. Bila tidak disebut dikitabnya berarti tidak ada atau bisa dosa nanti.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-09 21:04
~
Saudara Just,

Merujuk pada kitab adalah baik. Namun, lebih baik lagi bila dapat memahami kitab tersebut dengan pemahaman yang tepat dan kritis. Alloh Al-Quran tidak dipanggil “Bapa” karena tidak pernah menyatakan kedekatan dengan umatnya. Ini menjadi persoalan mendasar di kalangan Islam. Mengklaim Muslim harus dekat dengan allohnya, tetapi tidak ada bukti konkret bahwa alloh Islam dekat dengan umatnya. Kami berharap ini menjadi bahan pertimbangan bagi Muslim.
~
Solihin
# sadar 2016-11-08 12:45
~
Ayat-ayat kenikmatan orang yang mengenal Allah sebagai “Bapa”. “Lihatlah burung-burung di udara. Mereka tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan makanannya di lumbung. Namun, mereka dipelihara oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu lebih bernilai daripada burung-burung itu?” (Injil, Rasul Besar Matius 6:26).

Respon, makannya gunakan akal pikiran anda dan jangan asal percaya saja! Anda itu diberkahi Tuhan dengan akal pikiran jadi seharusnya anda dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Ikuti perintah Tuhanmu dan sembahlah Tuhan yang esa.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-09 21:04
~
Saudara Sadar,

Ayat tersebut begitu indah, bukan? Bahwa manusia dipelihara Bapa di sorga. Tentu ini sebuah ungkapan revolusioner yang disampaikan Isa Al-Masih yang selama ini memandang Allah sangat jauh dan tidak terjangkau. Tetapi Isa Al-Masih telah memberikan pemahaman baru yang menjelaskan bahwa manusia dapat memiliki relasi yang dekat dengan Allah.

Hal ini dibuktikan Isa Al-Masih dengan Allah datang langsung ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ini adalah bukti konkret bahwa Allah menghendaki manusia dekat dengan-Nya. Bagaimana dengan alloh saudara? Mengapa alloh saudara tidak menyatakan diri kepada nabi saudara untuk menunjukkan kedekatan dengan nabi saudara?
~
Solihin
# Alif 2016-11-08 12:49
~
To: Just4x2s,
Pertanyaan yang sangat sulit bahkan tidak bisa di jawab apabila pemikiran umatnya hanya dibatasi dengan apa yang ada di kitabnya. Bila tidak disebut dikitabnya berarti tidak ada atau bisa dosa nanti.
Respon: Anda benar sekali karena agama bukanlah hasil logika tapi agama mudah dicerna logika.

Islam dalam menjalankan perintah Alloh SWT selalu merujuk kepada Kitab Suci Al-Quran dan Hadist Rosululloh sebagai panduannya. Semoga anda tidak puas dan terus menggali ajaran Islam sampai datangnya hidayah buat anda.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-10 21:37
~
Saudara Alif,

Benarkah agama bukan hasil logika? Barangkali saudara perlu mempelajari hal ini kembali. Mengapa muncul agama-agama? Sebab agama merupakan hasil dari pemikiran filosofis manusia yang menyadari adanya “kekuatan tak terbatas”. Terminologi agama muncul karena manusia menghendaki tidak adanya kekacauan. Namun, faktanya seringkali agama menjadikan manusia fanatik dan fundamentalis. Membicarakan agama tentu bisa panjang lebar dan perlu dibatasi.

Karena itu, Isa Al-Masih datang ke dunia tidak membawa agama, tetapi menyelamatkan manusia dari dosa. Sebab bukan agama yang menyelamatkan, tetapi Allah. Allah menghendaki agar manusia memiliki sebuah relasi yang dekat dengan Allah sehingga dapat memanggil-Nya Bapa. Isa Al-Masih berfirman, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:23).
~
Solihin
# just4x2s 2016-11-08 13:21
~
Allah itu Roh dan seharusnya orang beragama tahu ini. Tapi kenapa orang tertentu masih berpikir Allah berjenis kelamin, Allah beristeri kalau mau punya anak? Apakah dengan menyebut Roh Allah itu bapa? Roh itu akan menjadi berkelamin laki-laki, tentu sangat tidakkan. Sebutan bapak adalah untuk kedekatan manusia kepada Allah. Demikian sebutan anak oleh Allah kepada manusia karena kedekatan dan kasihnya.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-10 21:37
~
Saudara Just,

Memahami Allah dengan perspektif manusia serta memahami-Nya sebagaimana manusia hidup, maka kita akan kehilangan makna dan hakekat Allah sesungguhnya. Istilah Bapa menggambarkan hubungan yang dekat dan memiliki ikatan psikologis seperti ayah dan anak. Karena itu, memahami Allah dengan sebutan Bapa dianggap memiliki jenis kelamin, maka yang bersangkutan tidak mengerti dan memahami Allah. Terimakasih saudara Just.
~
Solihin
# Samson 2016-11-08 15:09
~
1. Kesan apa pada orang Islam. Islam akan berpikir bahwa Allah itu berjenis kelamin. Disinilah Muhammad tidak mengerti iman yang diajarkan para nabi dan rasul. (Al-'An`ām):101 , bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri?

Yesus mengajarkan cara berdoa dengan sebutan Bapa dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13). Sebutan Bapa hanyalah sebuah gelar yang menunjukkan kasih orang tua terhadap anak-anaknya.

Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (Galatia 4:7). Allah sendirilah secara implisit mnyatakan bahwa Dia adalah Bapa bagi bangsa Israel (Keluaran 4:22) dan Musa adalah orang pertama yang memanggil-Nya Bapa (Keluaran 15:2).
# Staff Isa dan Islam 2016-11-10 21:37
~
Saudara Samson,

Memang Muhammad tidak memahami hakekat Allah sesungguhnya. Sebab Allah tidak pernah menyatakan diri kepadanya sehingga pemahamannya tentang Allah begitu absurd. Ketidakmengerti an Muhammad dituangkannya dalam surah Al-Anam :101. Tentu amat disayangkan bahwa seorang yang dianggap nabi tidak mengetahui hakekat Allah sesungguhnya.
~
Solihin
# Alif 2016-11-08 15:44
~
To: Samson,
Allah sendirilah secara implisit menyatakan bahwa Dia adalah Bapa bagi bangsa Israel (Keluaran 4:22) dan Musa adalah orang pertama yang memanggil-Nya Bapa (Keluaran 15:2).

Respon: Hanya untuk bangsa Israel saya setuju, dan orang Israel pun tidak mengakui Yesus itu Tuhan.
# Staff Isa dan Islam 2016-11-10 21:38
~
Saudara Alif,

Memanggil Allah dengan sebutan Bapa merupakan keistimewaan tersendiri. Ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Israel, tetapi untuk semua orang. Isa Al-Masih berfirman, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:23).

Walaupun orang Israel tidak mengakui Isa Al-Masih adalah Tuhan, ini tidak berarti bahwa Isa Al-Masih bukan Tuhan. Firman Isa Al-Masih di atas telah menegaskan hal itu. Memerhatikan fakta ini, mengapa saudara tidak mau memanggil Allah dengan sebutan Bapa? Bagaimana saudara?
~
Solihin