Islam dan Kristen Memberi Kebebasan Beribadah
“Untukmu agama mu, untuk ku agama ku”
“Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." (Injil, Rasul Lukas 9:50)
Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa baik Islam dan Kristen memberi kebebasan bagi siapapun untuk menjalankan ibadah keagamaannya selama itu tidak mengganggu mereka.
Agama dan Negara Memberi Kebebasan Beribadah
Kebebasan untuk melakukan ibadah keagamaan bukan hanya diperintahkan agama. Indonesia, negara yang mempunyai agama majemuk juga memberi kebebasan itu. Hal ini dapat dilihat dalam UUD 45 Pasal 29 ayat 2.“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”
Tentu kebebasan ini mencakup setiap hal yang dilakukan dan berhubungan dengan keagamaan. Juga dengan sarana beribadah. Jelas sekelompok umat tidak akan dapat melakukan ibadahnya dengan baik jika mereka tidak mempunyai tempat beribadah yang layak.
Ijin Sudah Ada Tetapi Beribadah Tetap Dilarang
Namun sepertinya apa yang sudah menjadi kesepakatan dan aturan yang telah ditetapkan oleh negara dan agama tidak berlaku bagi jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin. Sebab, jemaat GKI Yasmin belum dapat beribadah di gereja mereka sendiri walaupun Mahkamah Agung (MA) telah memenangkan GKI Yasmin di pengadilan.
Dengan keputusan kemenangan dari MA, seharusnya jemaat GKI Yasmin sudah berhak atas gedung gereja mereka. Dan seharusnya mereka sudah bebas melakukan kegiatan keagamaan di gedung itu.
Umat Muslim Mengingkari Ajarannya
Kelihatan umat Muslim bukan hanya tidak menghargai keputusan dari lembaga hukum tertinggi. Tetapi mereka juga melanggar ajaran mereka sendiri, yaitu “agamamu untuk mu”.
Penolakan umat Muslim atas keputusan MA dan tetap menolak jemaat GKI Yasmin untuk beribadah di bangunan mereka sendiri, membuktikan bahwa sebagian dari umat Muslim tidak dapat menghargai perbedaan. Selain itu, mereka juga tidak menghormati ajaran agama mereka sendiri, “Untukmu agama mu, untuk ku agama ku”
Isa Al-Masih Memberi Teladan Menghormati Orang Lain
Dalam ajaran-Nya, Isa Al-Masih selalu memberi teladan bagi pengikut-Nya. Dalam hal memperlakukan orang lain, Isa Al-Masih mengajarkan supaya selalu mengasihi sesama, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Injil, Rasul Besar Matius 22:39)
Teladan ini juga dilakukan oleh Isa Al-Masih, “Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." (Injil, Rasul Lukas 9:50)
Demikianlah, Isa Al-Masih mengajarkan kepada pengikut-Nya agar mereka tidak mengganggu orang-orang yang sedang melakukan kegiatan keagamaannya. Mereka diajarkan untuk menghormati dan mengasihi orang lain. Karena mereka telah terlebih dahulu menerima Kasih Keselamatan dari Isa Al-Masih.
Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.


