Ikuti Isa dan Islam di Facebook Ikuti Isa dan Islam di Tweeter
Cetak

Talak dan Pernikahan, Menurut Islam dan Kristen

on .

CeraiTalak! Talak! Talak!  Tiga kata yang ditakuti oleh semua isteri yang beragama Islam. “Talak” adalah sebuah istilah dalam agama Islam yang berarti perceraian antara suami dan isteri. Jatuhnya talak atau cerai tidak memerlukan saksi ataupun persetujuan isteri! Cukup dengan ucapan dari suami, maka talak dianggap sah.

Bercanda Dengan Talak Berujung Cerai

Harian kompas.com mencatat seorang warga Qatar harus rela menceraikan isterinya.  Karena dia telah terlanjur mengucapkan talak sebanyak tiga kali kepada isterinya melalui skype. Pria tersebut mengatakan bahwa ucapan talak yang ditujukan kepada isterinya hanyalah bercanda.

Namun sebuah fatwa online oleh pesantren Darul Ulum Deobandi di India menolak penjelasannya. Pesantren ini merupakan salah satu otoritas Islam terkemuka dalam hukum agama.  Mereka mengatakan bahwa perempuan tersebut harus menikah dengan lelaki lain dan bercerai.  Baru dia bisa menikah kembali dengan suami pertamanya.

Isteri Sekarang Menjadi Haram

Lagi, isi fatwa mengatakan, ketika suami memberikan talak tiga, maka isterinya menjadi 'haram' baginya. Tetapi mereka dapat menikah kembali setelah masa iddah atau masa tunggu sekitar tiga bulan. Dalam masa tunggu tersebut, si isteri harus menikah dulu dengan pria lain lalu menceraikannya pada saat masa tunggunya berakhir.  Kemudian ia boleh menikah kembali dengan suami pertamanya.

Dengan demikian, pasangan tersebut harus menunggu setidaknya tiga bulan untuk menikah lagi.  Si pria harus rela menerima kenyataan bahwa isterinya menikah dengan pria lain, lalu bercerai, kemudian menikah lagi dengannya.

Apa Arti Pernikahan Dalam Islam

Apa sebenarnya arti pernikahan menurut agama Islam? Sebegitu mudahnyakah bagi seorang pria menceraikan isterinya hanya dengan sebuah kata 'talak'?  Jelas, dalam hal ini seorang wanita tidak mempunyai hak yang sama dengan pria. Isteri harus dapat menerima kenyataan bila satu hari suaminya menceraikannya.

Hampir tidak ada satu ayatpun dalam Al-Quran yang membela hak-hak dari seorang isteri.  Sebaliknya sangat banyak nats Al-Quran yang memudahkan seorang suami menceraikan isterinya.  Apalagi ia diperbolehkan menikahi wanita lain dan menjadikannya isteri kedua, ketiga bahkan keempat. 

Injil Menjunjung Tinggi Pernikahan

Injil sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pernikahan.  Seorang pengikut Isa Al-Masih hanya diperbolehkan menikahi satu orang isteri.  Perceraian sangat tidak diperbolehkan.  Hal ini ditegaskan dalam Injil, Rasul Besar Matius 19:5-6.

Tujuan pernikahan dalam Kristen bukan semata-mata karena kebutuhan biologis saja. Injil memerintahkan seorang isteri harus tunduk kepada suaminya seperti dia tunduk kepada Tuhan.  Seorang suami harus mengasihi isterinya seperti dia mengasihi dirinya sendiri.

Malahan Injil menekankan bahwa suami harus mengasihi isteri sama seperti Isa Al-Masih mengasihi umat-Nya.  Demikian seorang suami harus mengorbankan dirinya tiap hari untuk isterinya. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. (Injil, Surat Efesus 5:25-27)

Nats Injil di atas menekankan bahwa Isa Al-Masih telah menyerahkan diri-Nya bagi manusia.  Untuk menghasilkan rumah tangga yang bahagia sangat perlu suami dan isteri menerima keselamatan yang disediakan Isa Al-Masih.


Apabila Anda memiliki tanggapan atau pertanyaan atas artikel ini, silakan menghubungi kami dengan cara klik link ini.

Add comment

PEDOMAN WAJIB MEMASUKAN KOMENTAR

Bagi Pembaca yang ingin memberi komentar, kiranya dapat memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Komentar harus menggunakan bahasa yang jelas, tidak melanggar norma-norma, tidak kasar, tidak mengejek dan bersifat menyerang.
2. Komentar hanya diperbolehkan menjawab salah satu dari 3 pertanyaan fokus yang dimuat di bagian akhir artikel. Kecuali beberapa artikel yang tidak memuat 3 pertanyaan fokus.
3. Sebelum menuliskan jawaban, copy-lah pertanyaan yang ingin dijawab terlebih dahulu.
4. Tidak diperbolehkan menggunakan huruf besar untuk menekankan sesuatu.
5. Tidak diijinkan mencantumkan hyperlink dari situs lain.
6. Satu orang komentator hanya berhak menuliskan komentar pada satu kolom. Tidak lebih!

Komentar-komentar yang melanggar aturan di atas, kami berhak menghapusnya. Untuk pertanyaan/masukan yang majemuk, silakan mengirim email ke: [email protected]

Kiranya petunjuk-petunjuk di atas dapat kita perhatikan.

Wassalam,
Staf, Isa dan Islam

Security code
Refresh

Comments  

# zulfan syahansyah 2010-11-11 13:52
*
Pertama, berbeda cara dan tempat masuknya antara Islam dan Kristen. Islam masuk di kawasan Arab yang pada waktu itu masyarakatnya memandang wanita dengan pandangan yang "rendah".

Berbeda dengan Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa yang notabene tidak "ber-ayah". Dan, di daerah kelahiran Isa, wanita menempati posisi lebih terhormat dari pada zaman pra-Islam.

Kenyataan ini berimplikasi pada keniscayaan memperlentur ajaran yang dibawa Muhammad.

sebagai contoh: Jika pada masa pra-Islam, seorang pria bisa memiliki puluhan bahkan ratusan wanita (selir), maka saat pertama kali datang, Islam tidak serta merta mengharuskan pria beristri satu. Jika itu yang dilakukan Islam, tentulah ia akan ditolak oleh komunitas Arab waktu itu.
# Staff Isa dan Islam 2010-11-15 17:06
~
Sdr Zulfan. Maaf, kami tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat saudara. Yahudi adalah rasialis dan sangat merendahkan posisi wanita. Namun hal ini dirubah oleh Isa Al-Masih di dalam pengajaran-Nya maupun contoh teladan-Nya kepada kaum wanita. Beberapa contohnya sdr dapat melihat pada Injil. Yang lebih mengagumkan lagi, bilan melihat kepada silsilah Isa Al-Masih, banyak nama-nama wanita yang muncul di dalam Al-Kitab. Berbeda dengan Al-Quran yang sama sekali tidak pernah mencantumkan seorang pun nama wanita, kecuali Maryam, ibu Isa Al-Masih.
 
Kelihatannya sdr setuju dengan konsep pria layaknya memiliki hanya seorang istri. Namun sayangnya Muhammad ataupun Allah yang dia disembah sama sekali tidak memiliki konsep ini. Sebaliknya, Al-Quran mengajarkan dan Muhammad mencontohkan. Cukup banyak dalil dalam Al-Quran yang merendahkan posisi wanita.

Bukankah, bila Islam tidak setuju dengan kelakuan masa jahiliyah terdahap wanita, cukuplah Islam diam saja dan bukan justru menambah ayat yang makin melegalkan hal tersebut dan mendegradasikan posisi wanita?
~
CA
# eden 2010-11-12 09:27
*
Dalam agama Islam, talak bukan milik suami, talak itu milik Nabi Muhammad, itulah Yasin al-Quranul Hakim yang menghakim segala perkara termasuk perbalahan suami isteri.

Apabila urusan Allah diuruskan oleh manusia bukanlah ia undang-undang Allah tetapi undang manusia.
# Staff Isa dan Islam 2010-11-12 11:52
~
Sdr Eden, mungkin apa yang saudara katakan itu benar, bahwa talak milik Nabi Muhammad, namun pada kenyataannya, kata “talak” mempunyai kuasa yang sangat besar dalam pernikahan Muslim. Bahkan talak yang diucapkan secara bercandapun dianggap sah. Perceraian di Pengadilan Agama belum sah bila suami belum mengucapkan talak, sementara suami yang mengucapkan talak tanpa saksi telah dianggap sah. Demikian, dapat disimpulkan bahwa kedudukan “talak” lebih tinggi dibandingkan kedudukan Pengadilan Agama.

Mungkin hal inilah yang membuat perceraian begitu mudah terjadi, dan lagi Al-Quran sepertinya tidak memberikan perlindungan bagi isteri yang akan diceraikan, bahkan terkesan Al-Quran memposisikan wanita satu tingkat dibawah derajat pria.

Berbeda dengan ajaran Isa Al-Masih. Injil mengharamkan perceraian (Injil Matius 19:5-6). Suami dan isteri mempunyai kedudukan yang sama dalam rumah tangga dan juga dihadapan Allah. Seorang suami wajib mengasihi isterinya sebagaimana dia mengasihi Allah, demikian sebaliknya sebagai isteri wajib tunduk kepada suaminya sebagaimana dia tunduk kepada Allah.
~
SO
# nuroel 2010-11-12 20:14
*
Kalimat, "Tujuan pernikahan dalam Kristen bukan semata-mata karena kebutuhan biologis saja. Injil memerintahkan seorang isteri harus tunduk kepada suaminya seperti dia tunduk kepada Tuhan.".

Jika diambil makna kalimat diatas, "kepatuhan" sama dengan ajaran Islam. Bahwa seorang istri harus melayani suaminya sebaik mungkin agar sang suami tidak sampai menceraikannya.

Tapi ajaran Islam lebih memanusiakan sang suami, karena sang Istri juga bisa minta cerai. Cerai dalam Islam adalah halal tapi dibenci oleh Allah.

Kami mohon bagi staff untuk tidak mempelajari Islam hanya dari Al-Quran saja, tapi juga hadits nabi. Karena ada banyak hal positif tentang pernikahan. Sebagai contoh: Nafkah suami untuk keluarga lebih baik ketimbang sedekah dengan beberapa derajat kemuliaan, dan lain sebagainya.

Bahkan perlu anda ketahui. Bahwa nabi Isa pun berpoligami.
*
# Staff Isa dan Islam 2010-11-15 17:34
~
Sdr Nuroel,

Betul yang saudara katakan bahwa seorang isteri harus patuh dan melayani suaminya sebaik mungkin. Namun, motivasi isteri di sini bukanlah supaya dia tidak diceraikan suaminya, melainkan karena dia mengasihi suami. Maka dia dapat memberikan cinta yang tulus, karena diapun telah menerima cinta yang tulus dari suaminya. Sebagaimana ajaran dari Isa Al-Masih bahwa seorang isteri harus tunduk kepada suaminya, demikian pula suami harus mengasihi isterinya.

Menurut Saudara, manakah yang lebih layak diikuti, kebenaran ayat Al-Quran atau hadits? Bila Al-Quran mengatakan “benar” apakah kita perlu mencari perbandingannya lagi pada hadits? Bila selalu mencari perbandingan pada hadits, bukankah itu artinya Saudara tidak percaya sepenuhnya pada Al-Quran?

Dapatkah Saudara menunjukkan ayat Al-Quran atau Alkitab yang mengatakan bahwa Isa berpoligami?
~
SO
# nuroel 2010-11-15 20:54
*
Al-Quran dan Hadits tidak bisa dipisahkan, karena keduanya adalah saling melengkapi.

Jika suami sudah tidak bisa lagi mentolerir sifat buruk isteri yang hanya ingin dicintai tapi enggan untuk mencintai, belum lagi masalah ibadah yang merupakan tanggung jawab suami yang enggan dilakukan istri bahkan lalai dalam melaksanakannya.

Itulah kenapa tanggung jawab suami lebih besar didalam rumah tangga. dan seluruh agama didunia ini mengakui itu.
# Staff Isa dan Islam 2010-11-25 09:55
~
Sdr Nuroel,

Ajaran Isa Al-Masih tentang “suami mengasihi isterinya”, artinya suami tidak mengutamakan haknya, melainkan ia harus membimbing, memperhatikan, dan melindungi isteri. Apakah hal ini sudah dilakukan oleh suami? Sebenarnya tidak ada hal yang tidak mungkin diselesaikan jika ada niat baik sehingga tidak perlu cerai.

Apakah Saudara boleh mengatakan “Tidak ada niat lagi melanjutkan hidup ini karena susah sehingga Saudara boleh bunuh diri”?

Berkaitan dengan ibadah suami, Alkitab justru mengajarkan: doa suami akan didengar Allah bila ia hidup bijaksana dan menghormati isterinya. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" (Injil, Surat 1 Petrus 3:7)
~
SL
# vivi 2010-12-11 10:21
*
Sdr staf, ketika saya membaca Injil saya menemukan ayat yang mengatakan Isa datang bukan untuk menghapus hukum Taurat, melainkan menggenapinya.

Bila kita baca di Perjanjian Lama, banyak kisah yang menyebutkan nabi berpoligami, seperti Abraham, Yakub, Daud (mempunyai 99 istri), dll.

Di Perjanjian Baru tidak ada nats yang melarang lelaki berpoligami, yang ada hanyalah larangan untuk menceraikan istrinya dan kemudian menikahi wanita lain. Artinya jika seseorang menikah lagi tanpa menceraikan istrinya adalah sesuatu yang boleh bukan?

Berikut ini ayat yang saya temukan: "Lalu kata-Nya kepada mereka: Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."
# Staff Isa dan Islam 2010-12-15 19:18
~
Saudari Vivi, Taurat tidak pernah menyuruh orang-orang untuk berpoligami.
Bahkan di lembaran awal Kitab suci dikisahkan  bahwa Adam hanya mempunyai satu istri, yakni Siti Hawa. Allah membentuk hanya satu orang wanita untuk diperistri oleh Adam.
 
Jika kita jeli memperhatikan kisah ini dan mengambil hikmah serta pelajaran daripadanya, maka niscaya satu lelaki hanya memperistri satu orang wanita.
 
Dan jika kita benar-benar memperhatikan kisah yang tercatat dalam Taurat, Zabur, dan Kitab Para Nabi, maka kita akan menemukan, jikalau satu tokoh memiliki lebih dari satu istri, maka hanya ada satu istrinya yang lebih dominan dicatat dalam Kitab Suci. Lebih "berprest asi" dan dihargai Al-Kitab .

Namun memang pada zaman dahulu, berpoligami itu belum dilarang. Kitab Suci adalah bersifat "progressive revelation", yakni penyingkapan wahyu Tuhan sec ara bertahap. Mengapa? Karena kalau dalam satu waktu, semua wahyu Tuhan langsung disingkapkan, maka manusia tidak akan mampu menangkap dan memahaminya.
 
Barulah pada saat Injil dituliskan, hal ini dijabarkan lebih tuntas. Dikatakan secara jelas bahwa orang yang melayani Tuhan, haruslah merupakan suami dari satu isteri (Injil, Surah I Timotius 3:2 dan 12). Demikian pula ketika kata "istri" mucul dalam Kitab Suci, tidak dipakai bentuk "jamak", melainkan bentuk "tunggal", yang berarti "satu" istri.
~
CA
# Hamba Allah 2010-12-11 11:10
*
Pernikahan itu adalah suci, dan ditelapak kaki wanita (ibu) terletak surga, panggilah istrimu dengan panggilan yang mulia, oleh karena itu Islam tidak memperbolehkan mempermainkanya sekalipun dengan canda gurau, disitulah letak kemuliaan Islam.

Islam diturunkan sesuai fitrah manusia, seperti jika dalam perkawinan sudah tidak ada lagi cara untuk rukun, dengan sangat terpaksa harus cerai, cerai itu boleh tapi sangat tidak disukai dalam Islam.

Lihat sekarang, perempuan lebih banyak dari laki laki, Islam melihat jauh ke depan, maka memperbolehkan poligami, tapi ingat tujuannya untuk ibadah.
# Staff Isa dan Islam 2010-12-15 19:19
~
Saudaraku, adalah benar bahwa pernikahan itu adalah suci, oleh sebab itu pernikahan tidak boleh dikotori dengan "nafsu". Apalagi nafsu untuk memiliki wanita lain selain istri yang sudah dengan setia menemani di samping, ataupun nafsu untuk menunjukkan dirinya lebih "mampu" daripada orang lain.
Biarlah nafsu dienyahkan dengan berkata kepada diri sendiri, bahwa "cukup" adalah "cukup".
 
Pernikahan adalah dibangun di atas dasar "KASIH". Dengan janji kasih, kita mengikat pernikahan, dan biarlah KASIH itu pulalah yang menyatukan kita sampai akhir hayat.
 
Kasih itu panjang sabar; kasih itu murah hati; kasih tidak cemburu. Kasih tidak menganggap dirinya paling benar. Kasih tidak pemarah, memberi pengampunan, dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, apalagi pasangan kita (Injil, 1 Korintus 13:4-5).

Dengan "kasih" tidak ada yang tidak bisa dimaafkan, sehingga harus cerai. Kasih punya "pengharapan" bahwa satu saat nanti pasangan kita akan bertobat. Kasih sabar menanggung segala sesuatu, dan kasih itu tak berkesudahan (I njil, 1 Korintus 13:7-8).
 
Apakah sulit untuk mempraktekkanny a? Jelas sulit, tetapi bukan mustahil.
~
CA
# sipengebara 2010-12-16 16:40
*
Mengapa kata talak di Islam 3 kali langsung harus cerai, karena perkawinan di Islam bukan untuk main-main atau dipermainkan.

Mengapa di Islam boleh cerai, karena kita manusia banyak hal dan rintangan. Seperti: tidak mungkin perkawinan yang sudah seperti neraka akan tetap dipertahankan.

Tetapi di Islam jika sudah cerai si istri harus kawin lagi dengan orang lain baru boleh rujuk lagi (sesudah talak 3), artinya tidak boleh suami dengan semena-mena kalau tidak ingin menyesal kemudian.

Islam mengizinkan pria menikah sampai 3 orang wanita, karena fakta sejarah skarang wanita jauh lebih banyak dari pria dan mungkin masih banyak alasan tersembunyi lain. Maklum pengetahuan agama saya masih cetek :)
# Staff Isa dan Islam 2010-12-24 13:57
~
Dari Ibn Abbas, ia berkata, "Abu Rukanah telah menalak Ummu Rukanah," lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Rujuklah isterimu itu." Lalu ia menjawab, "Sudah aku talak tiga ia." Beliau berkata, "Aku sudah tahu, rujuklah ia." (HR.Abu Daud).

Mengenai perceraian di dalam Islam, sungguh masih banyak perdebatan.

Beberapa pendapat tentang pengucapan talak: Di antara talak, harus ada rujuk dahulu, kemudian talak lagi. Tidak sah berkata “talak tiga” dalam satu lafash. Talak tiga berarti, mengucapkan kata “talak” sebanyak tiga kali dalam waktu bersamaan. Pengucapan talak harus di pengadilan. Talak bisa juga lewat SMS.

Sebuah hadist mengatakan, walau sudah menjatuhkan talak tiga, suami isteri dapat rujuk kembali. Tanpa harus ada periode waktu atau sang isteri diharuskan menikah dahulu dengan pria lain.

Saya tidak tahu Saudara menyetujui pendapat yang mana.

Jumlah wanita lebih banyak dibanding pria adalah alasan berpoligami. Tentu hal ini salah. Sebab, di tiap negara jumlah pria lebih banyak dibanding wanita. Yaitu 107 pria berbanding 100 wanita.

Menurut Kepala BPS Pusat Indonesia, sesuai sensus penduduk 2010, jumlah perbandingan pria: wanita adalah 1,01. Di Arab sendiri perbandingannya adalah 1,05.
~
CA
# Abd. Razak 2010-12-17 11:29
*
Sebenarnya yang menjunjung tinggi pernikahan adalah Islam. Yesus tidak pernah menikah.

Dalam Islam ada aturan sebelum memutuskan bercerai yaitu dengan cara pisah ranjang dulu, tujuannya supaya suami istri bisa berfikir/intros peksi diri tentang kesalahannya masing-masing.

Dalam Islam ada 3x talak, tujuannya supaya diberi kesempatan untuk rujuk (balik)kepada istrinya, jika talaknya sampai 3x baru harus ada Mahallil.
# Staff Isa dan Islam 2010-12-24 15:09
Saudara Abd.Razak,

Mengenai keharusan pisah ranjang dulu sebelum cerai untuk kesempatan masing-masing instropeksi, sepertinya hal ini tidak ada dalam Islam.

Bahkan kata 'talak' yang diucapkan dalam keadaan sedang emosi pun dihitung sebagai talak resmi.

Menjunjung tinggi pernikahan bukan berarti harus menikah bukan?

Saya menyayangi binatang, bukan berarti saya harus memelihara binatang.
Saya menghargai orang yang berpuasa, berarti justru saat itu saya tidak berpuasa.

Menjunjung tinggi pernikahan berarti bahwa di dalam pikiran, tidak ada kosa kata "cerai", melainkan walau apapun yang terjadi, tetap saling mengasihi antar suami dan istri.

Mengenai talak, silahkan Saudara melihat pada tanggapan kami atas komentar Sdr.Sipengebara di atas.

Terima Kasih,
CA
# aturan tak berlaku l 2011-01-03 23:26
*
Dalam Kristen tak boleh cerai. Aturan yang tidak berlaku pada zaman sekarang.

Negara mana di dunia ini, baik negara Islam, sekuler, Kristen, Ateis yang tidak mengatur mengenai perceraian, alias ada undang-undang atau hukum-hukumnya bahkan ada pengadilannya. Ini membuktikan bahwa di negara manapun sah-sah saja bercerai.

Aturan Islam sesuai dengan fitrah (kodrat) manusia. Dalam pernikahan ada 2 versi, yaitu:

1. mendapat pasangan yang baik, maka bahagialah kita lahir batin, pernikahan hinggga akhir hayat.

2. mendapat pasangan yang tidak baik, kita dibuat menderita lahir batin. apakah kita mau menderita sampai mati?

Makanya orang mau membayar mahal untuk becerai daripada menderita seumur hidup, hidup hanya skali, jangan dibuat susah.
# Staff Isa dan Islam 2011-01-11 16:15
~
Pada dasarnya didalam Alkitab, Allah tidak menghendaki perceraian, “ Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel. (Kitab Nabi Maleakhi 2:16). Kalaupun akhirnya Nabi Musa mengijinkan perceraian itu semata-mata karena “kekerasan hati” orang-orang Yahudi pada masa itu.

Menyaksikan perceraian dalam sebuah perkawinan, kita manusia yang penuh kelemahan saja dapat merasakan kesedihan akibat yang ditimbulkan karenanya, apalagi Allah yang Maha Kasih pasti sangat berduka melihat perkawinan yang harus berakhir dengan perceraian.
~
SL
# ken andien 2011-06-09 16:33
*
Meyakini setiap agama adalah hak setiap manusia, keyakinan hanya ada di hati setiap manusia. Setiap agama pasti melarang kejahatan dan menganjurkan kebaikan.

Manusia selalu mengkotak-kotak kan segala sesuatu di dunia fana ini. Yang Maha menilai manusia itu hak atau batil hanya Tuhannya masing-masing.

Jodoh ataupun bercerai adalah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk umat-Nya agar kita bisa mendapat pelajaran hidup untuk hidup yang lebih baik kelak.

Ajaran agama tidak untuk diperdebatkan, tapi harus diambil hikmah terbaik untuk pembelajaran hidup agar kita tidak mengulang kesalahan yang terceritakan dalam Kitab, hadist ataupun segala kitab panutan umat.

Yang paling penting,
1. Ingatlah mati agar bisa berbuat yang terbaik setiap detik.
2. Cintailah sesama seperti mencintai diri sendiri.
3. Tepo sliro (bayangkan segalanya terjadi kepada dirimu sendiri ) agar kamu tak mampu menyakiti orang lain.
# Staff Isa dan Islam 2012-01-26 17:52
~
Banyak cara lain yang dapat dipakai untuk mendapatkan pelajaran hidup. Dan itu bukan dengan perceraian. Perceraian bukanlah jalan keluar dari masalah. Tetapi akan menimbulkan masalah baru pada satu masalah. Dan Allah tidak pernah memberikan jalan keluar yang demikian.

Apakah dengan berbuat baik setiap detik adalah cukup? Jelas tidak! Sebab berbuat baik tidaklah cukup untuk menjamin keselamatan seseorang.

"Isa bersabda: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Injil, Rasul Besar Yohanes 14:6).

Isa Al-Masih adalah "Jalan". Melalui Dia orang dapat belajar mengenai "Kebenaran" tentang Allah dan menemukan "Hidup" bersama Allah.

Bila saudara rindu untuk menemukan kebenaran hidup, datanglah pada Isa Al-Masih. Sebab hanya Dia yang memiliki Kebenaran itu.
~
SO
# abu hanan 2011-08-22 23:01
*
Hampir tidak ada satu ayatpun dalam Al-Quran yang membela hak-hak dari seorang isteri, tulisan anda adalah bukti bahwa admin tidak mengetahui/memb aca Al-Quran.

Saya sarankan admin untuk membaca Bible lebih teliti, 1 Timotius 2:12 "Aku tidak memberi izin bagi perempuan untuk mengajar atau memerintah laki-laki, melainkan hendaklah ia berdiam diri."

2:13: "Karena Adamlah yang lebih dulu dijadikan, baru kemudian Hawa,

2:14 dan bukan Adam yang tertipu, melainkan perempuan itu sehingga ia jatuh dalam pelanggaran"

Agama anda menempatkan Hawa sebagai terdakwa.
# Staff Isa dan Islam 2011-08-30 17:45
~
Saudara Abu Hanan,

Biasakan saudara membaca sesuatu dengan memperhatikan konteks. Konteks dari ayat tersebut, bahwa pada saat itu para wanita di jemaah yang dibina oleh Timotius kurang berdisiplin. Mereka terbiasa berbicara sana-sini dan berlaku kurang hormat kepada suami pada saat pertemuaan jemaah. Oleh karena itu Rasul Paulus sebagai bapa rohani menegor supaya jemaah lebih disiplin dan tertib dalam tata cara sopan santun menurut aturan bangsa tersebut pada saat itu.

Jadi teguran Paulus tersebut bukan aturan dogmatik yang menjadi sebuah ajaran guna merendahkan derajat kaum wanita. Tetapi teguran tersebut bersifat kasuistik, yang ditujukan pada kasus saat itu. Namun adalah baik jika ibadah berjamaah dijalankan secara tertib dan saling menghargai.
~
NN
# garido 2014-02-24 13:04
~
Mengapa sekarang banyak pembesar Muslim yang kawin gonta -ganti, karena mengikuti ajaran yang sulit dimengerti? Bukankah nabi umat Muslim istrinya banyak?
# Staff Isa dan Islam 2014-03-29 12:01
~
Salam Sdr. Garido,

Hal inilah seharusnya menjadi pertanyaan bagi umat Mukmim? Apakah Allah berkenan dengan perceraian? Jika Allah sudah merancang pernikahan yang indah sejak semula, mengapa dengan mudahnya pernikahan dianggap sebagai hal yang tidak sakral dan dijaga oleh pasangan masing-masing.

Kiranya saudara dan keluarga semakin diberkahi.
~
Salma
# gieang 2014-03-06 03:27
~
Bagaimana bila rumah tangga sudah tidak harmonis dan tidak layak untuk dipertahankan? Antara suami dan istri sudah tidak saling menghargai, atau sang suami pindah ke lain hati (berselingkuh) dikarenakan sang istri tidak melayani suami. Istri sibuk dengan dunianya sehinga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.

Apakah berselingkuh jalan terbaik dari pada bercerai? Menurut pengalaman teman saya (Kristen), dia lebih memilih berselingkuh dari pada bercerai. Karena dia sudah berjanji dihadapan Tuhan Yesus hanya kematian yang bisa memisahkan mereka. Tidak perduli kondisi rumah tangga kacau balau sekalipun. Mohon bantuanya para pembaca dan staf.

Salam.
# Staff Isa dan Islam 2014-03-29 12:10
~
Salam Sdr. Gieang,

Alkitab memberikan pengertian tentang pernikahan begitu baik dan indah. Seorang istri selain tunduk juga haruslah menjadi penolong bagi suami, demikian suami harus mengasihi istri. Tidak ada kata perceraian yang dapat memisahkannya. Hanya kematian.

Jika terjadi kesalahpahaman atau disfungsi dalam rumah tangga, sebaiknya mulai mendiskusikan dengan pasangan dan mencari jalan keluar. Perceraian atau perselingkuhan bukanlah jalan keluar. Seorang istri atau suami jika memang mengerti hakekat membangun keluarga yang berlandaskan akan Kasih Isa Al-Masih, tentu mereka akan bisa menjaga diri dan kekudusan pernikahan mereka.

Jika saudara hendak bertanya atau berdiskusi dengan kami seputar kehidupan saudara, kami mempersilakan saudara mengirim email ke . Kami senang membantu saudara.

Tuhan memberkahi saudara dan keluarga.
~
Salma
# gathan 2014-05-25 12:05
~
Aku menyimpulkan agama Islam sesuai fitrah manusi. Kesimpulan diskusi ini staf tidak jelas menjawab diskusi ini atau sumber dari kitab anda tidak bisa menjelaskan atau tidak ada pengalaman hal ini di ajaran anda. Dan kalau pun ada penjelasan dari staf, menurut saya, tidak ada penjelasan yang sesuai fitrah atau sifat-sifat manusia oleh sumber keyakinan staf.
# Staff Isa dan Islam 2014-06-12 22:48
~
Saudara Gathan,

Kami tertarik dengan pernyataan saudara. Kalau boleh tahu, dimana letak tidak jelas dari penjelasan kami? Tentu kami dapat menjelaskan kembali agar sesuai dengan pemahaman saudara. Bagaimana saudara?
~
Solihin
# anisa 2014-06-07 03:24
~
Asalamualaikum,

Saya seorang Muslimah yang mempunyai masalah yang berhubungan erat dengan topik di atas. Langsung saja. Selama saya menikah dengan suami saya, suami saya sering bicara saya talak kamu. Mungkin lebih dari 100 kali dia bilang seperti itu dan keadaan saya pun sedang hamil dulu. Apakah saya termasuk sudah cerai dengan suami saya? Sementara dia bilang itu bercanda. Dan hubungan kami masih berlanjut sampai bayi saya umur 3 bulan. Dan setelah itu saya pergi keluar negeri untuk bekerja.
# Staff Isa dan Islam 2014-06-12 22:59
~
Saudara Anisa,

Terimakasih saudara telah berkenan berbagi dengan kami. Perceraian tidak akan terjadi hanya dengan perkataan saja. Dan menurut kami, setiap pasangan perlu menghargai perkawinan. Perkawinan itu kudus dan bukan ajang candaan. Kami kurang setuju bila perkataan talak digunakan dengan alibi hanya bercanda.

Kami kira yang perlu diingat adalah sabda Isa Al-Masih. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Injil, Rasul Besar Matius 19:6). Bila saudara ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai hal ini, kami siap membantu saudara. Silakan email kami di
~
Solihin
# lastri 2014-08-25 22:51
~
Aku mau menghujat cerai. Seumpamanya suami tidak mau tanda tangan terus itu bagaimana?
# Staff Isa dan Islam 2014-09-01 17:40
~
Saudara Lastri,

Tentu yang patut dipertanyakan adalah alasan memilih bercerai. Mengapa itu harus dilakukan? Tidak adakah kesempatan untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga? Apakah ini jalan terbaik? Sudahkah saudara memikirkan resikonya untuk saudara, pasangan, dan anak-anak? Tentu alangkah lebih bijak memikirkan secara mendalam dan matang sebelum membuat keputusan, bukan? Bagaimana menurut saudara?
~
Solihin
isadanislamstudi.com

* Untuk bisa masuk ke pelajaran kursus ini, non-aktifkan 'pop-up blocker' komputer Saudara dengan meng-klik di sebuah 'bar' di bawah 'status bar' di bagian atas layar komputer

Isa Islam Dan Kaum Wanita

Click gambar di samping untuk artikel - artikel untuk wanita Muslim


 

www.isaislamdankaumwanita.com